SAMARINDA: Komisi IV DPRD Kalimantan Timur memastikan tidak ada lagi perbedaan menu makan bagi siswa asrama di SMAN 10 Samarinda.
Kepastian itu disampaikan setelah dilakukan inspeksi mendadak (sidak) serta koordinasi lanjutan dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti temuan perbedaan menu makan dengan menghubungi langsung Kepala Disdikbud Kaltim.
“Terkait hal tersebut sudah kami follow up langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” ujar Andi Satya kepada Narasi.co saat dikonfirmasi, Rabu, 11 Februari 2026.
Ia menyebut, berdasarkan laporan terbaru yang diterima DPRD, penyesuaian menu telah dilakukan sehari setelah sidak berlangsung.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, penyesuaian sudah dilaksanakan keesokan harinya setelah sidak,” jelasnya.
Sebelumnya, dalam sidak pada Senin, 9 Februari 2026, Komisi IV menemukan adanya ketidaksamaan menu makan siang siswa asrama.
Sebagian siswa hanya menerima nasi, satu butir telur, dan tahu, sementara menu ayam yang tersedia tidak dibagikan secara merata.
Temuan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan rasa ketidakadilan di kalangan siswa.
DPRD pun meminta agar pengelolaan konsumsi yang dilaksanakan pihak ketiga dievaluasi.
Selain persoalan konsumsi, sidak juga menyoroti isu kelistrikan di lingkungan sekolah dan asrama.
Namun setelah pengecekan, DPRD memastikan tidak ada unsur diskriminasi dalam pembagian listrik.
Keterbatasan daya menjadi penyebab utama sehingga penggunaan listrik diterapkan secara bergiliran.
Kepala SMAN 10 Samarinda, Ni Made Adnyani, sebelumnya menjelaskan bahwa pengelolaan konsumsi siswa asrama sepenuhnya berada di tangan pihak ketiga dan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
“Masukan dari Komisi IV terutama terkait menu makan. Karena itu dikelola pihak ketiga, maka evaluasi akan kami lakukan pada pelaksanaannya,” ujar Ni Made.
Terkait isu perbedaan fasilitas pendingin ruangan (AC), ia membantah adanya perlakuan tidak merata.
“Tidak benar jika ada kelas yang tidak ber-AC. Semua ruang kelas dan kamar asrama sudah dilengkapi AC. Itu merupakan bantuan dari Dinas Pendidikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kendala yang muncul lebih disebabkan oleh keterbatasan kapasitas daya listrik.
Pihak sekolah telah mengajukan penambahan daya dan melakukan pembayaran uang muka, namun masih menunggu proses lanjutan.
“Kami tidak membedakan fasilitas. Kendalanya hanya soal daya listrik yang masih terbatas,” pungkasnya.

