SAMARINDA: Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menyatakan pihaknya belum menerima laporan resmi terkait rencana pembangunan Pasar Segiri pascakebakaran yang terjadi pada Kamis, 26 Maret dini hari.
Deni menegaskan, hingga saat ini DPRD belum mengetahui secara rinci konsep pembangunan yang akan dilakukan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk wacana pembangunan sementara menggunakan material kayu ulin.
“Sampai hari ini kami di DPRD belum menerima usulannya seperti apa, pola pembangunannya seperti apa, jangka pendek maupun jangka panjangnya seperti apa. Jadi kami tidak berani memberikan statement sebelum mengetahui detailnya,” ujarnya diwawancarai awak media, Rabu, 1 April 2026.
Ia menekankan pentingnya transparansi dan koordinasi dari pemerintah kota serta dinas terkait agar DPRD dapat memahami arah kebijakan pembangunan yang akan dilakukan, terutama menyangkut bentuk bangunan dan tujuan dari proyek tersebut.
“Prinsipnya kami ingin tahu dulu laporan dari dinas terkait, perencanaannya untuk apa, dan pola bangunannya seperti apa. Apakah permanen atau sementara, itu harus jelas,” tegasnya.
Menurut Deni, meskipun pembangunan pasar merupakan kewenangan pemerintah kota, DPRD tetap perlu mendapatkan informasi menyeluruh agar fungsi pengawasan dapat berjalan optimal.
“Kami ingin kegiatan itu diketahui juga oleh DPRD. Apa yang dibangun, bentuknya seperti apa, dan tujuannya apa. Itu yang paling penting,” katanya.
Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya itu berharap dalam waktu dekat pemerintah kota dapat menyampaikan rencana tersebut secara resmi kepada DPRD, termasuk skema pembangunan infrastruktur pasar dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang.
“Semoga nanti kami diinformasikan oleh dinas terkait atau pemerintah kota terkait pembangunan ini,” tambahnya.
Sementara itu, rencana revitalisasi Pasar Segiri juga disebut masih belum disampaikan secara formal kepada DPRD.
Deni menduga hal ini berkaitan dengan penyesuaian anggaran di tengah kebijakan efisiensi.
“Mungkin pemerintah kota masih mengatur waktu pelaksanaannya karena ada efisiensi,” ujarnya.
Diketahui, dalam kebakaran itu sebanyak 20 kios dan 24 rumah toko (ruko) dilaporkan hangus terbakar, mengakibatkan kerugian material yang cukup besar serta mengganggu aktivitas ekonomi para pedagang.

