SAMARINDA: Jalan Tembus Merdeka-Pelita 3 di Kecamatan Sambutan kembali menjadi sorotan setelah terjadi longsor di sejumlah titik.
Insiden terbaru pada Senin, 23 Februari 2026, di ruas Gerilya-Pelita 3 menyebabkan material tanah menutup sebagian badan jalan sehingga mengganggu arus lalu lintas.
Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Samarinda, Deni Hakim Anwar, menilai jalur alternatif tersebut masih rawan dan membutuhkan penanganan komprehensif agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Waktu sidang paripurna penetapan APBD, masing-masing fraksi sudah menyampaikan agar jalan tembus itu harus tuntas di 2026. Jangan sampai berulang lagi,” ujarnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Jalur penghubung Jalan Merdeka Timur-Sultan Alimuddin itu diresmikan pada Maret 2024 oleh Andi Harun dengan nilai proyek sekitar Rp28 miliar.
Namun, pada Januari 2025 akses tersebut sempat lumpuh cukup lama akibat longsor yang menutup badan jalan dan memerlukan penanganan bertahap.
Meski kini telah kembali fungsional, potensi longsor susulan masih mengintai, terutama di sisi tebing Jalan Pelita 3 yang dinilai cukup curam.
Deni menyebut, berdasarkan informasi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), pada 2026 akan diusulkan anggaran sekitar Rp5 miliar untuk penataan lereng dan penguatan struktur di sepanjang jalur tersebut.
“Nanti kita lihat sejauh mana pekerjaan ini berlangsung dengan baik dan aman. Kalau memang Rp5 miliar cukup, harusnya tuntas. Tapi kalau tidak cukup, sampaikan saja perlu Rp10 miliar misalnya, yang penting selesai dan tidak berulang,” tegasnya.
Menurutnya, penyelesaian harus dilakukan secara menyeluruh, khususnya pada penguatan lereng yang dinilai menjadi titik rawan.
DPRD tidak ingin perbaikan dilakukan setengah-setengah lalu kembali mengalami kerusakan di kemudian hari.
“Kita maunya sekali buat di jalan itu tuntas. Setelah itu tinggal pengawasan. Supaya benar-benar berfungsi untuk masyarakat yang dari Sambutan ke Samarinda Utara maupun sebaliknya,” katanya.
Komisi III pun meminta Dinas PUPR memastikan perencanaan teknis yang matang, termasuk sistem drainase dan penguatan tebing, mengingat kondisi geografis kawasan tersebut yang rawan longsor.

