SAMARINDA: Meski pembangunan driving range golf digital di kawasan GOR Segiri telah dinyatakan rampung 100 persen, fasilitas olahraga berteknologi tinggi tersebut hingga kini belum diresmikan dan difungsikan.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan pihaknya akan memastikan penyebab belum beroperasinya fasilitas senilai Rp61,8 miliar itu.
Padahal, secara fisik dan kelengkapan peralatan, informasi di lapangan menyebutkan seluruhnya telah siap digunakan.
“Kalau secara prinsip, infonya sudah lengkap semua. Tapi kita ingin memastikan kendalanya apa sehingga belum di-launching. Apakah ada spesifikasi yang belum terpenuhi atau persoalan teknis lainnya,” ujarnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Deni menyebut, pihaknya telah meninjau lokasi saat proses pembangunan tahun lalu.
“Dulu kita sudah datang saat proses pembangunan. Sekarang kita ingin lihat setelah selesai, apakah sesuai dengan yang disampaikan,” tegasnya.
Komisi III pun kembali menjadwalkan inspeksi mendadak (sidak) pekan depan. Driving range tersebut menjadi salah satu lokasi yang akan ditinjau guna melihat langsung kondisi akhir pascapembangunan.
Fasilitas ini dirancang berbeda dari tempat latihan golf konvensional karena mengadopsi teknologi digital dari Korea Selatan.
Driving range tersebut dilengkapi launch monitor, radar swing, kamera analisis gerakan, hingga sistem statistik real-time.
Pemain dapat langsung melihat data detail pukulan, mulai dari kecepatan bola, sudut ayunan, tingkat akurasi, hingga rekaman visual gerakan tubuh.
Secara fisik, fasilitas ini memiliki 32 bay (bilik latihan) yang tersebar di dua lantai, termasuk dua ruang VIP.
Area pukulan mencapai 194 meter dengan net pembatas setinggi 40 meter. Dengan spesifikasi tersebut, fasilitas ini diklaim menjadi salah satu driving range tercanggih di Kalimantan Timur.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Samarinda, Muslimin, memastikan pembangunan telah selesai sepenuhnya dan seluruh peralatan telah terpasang.
“Driving golf sudah selesai 100 persen. Tinggal menunggu arahan bapak wali kota terkait pengelolaannya, apakah dikerjasamakan dengan pihak ketiga atau dikelola oleh UPTD,” jelasnya.
Ia menegaskan seluruh sistem digital, termasuk monitor perhitungan poin, telah siap digunakan.
Kini, keputusan terkait skema pengelolaan menjadi faktor penentu kapan fasilitas tersebut resmi dibuka untuk umum.

