SAMARINDA: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino dengan intensitas kuat berpotensi terjadi pada periode Mei hingga Juli 2026, yang dapat memicu kondisi cuaca lebih kering di wilayah Kalimantan Timur.
Ketua Tim Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda Wiwi Indasari Azis menyebut bahwa pada awal April ini kondisi cuaca di Samarinda belum dipengaruhi oleh fenomena tersebut karena belum memasuki fase aktif.
“Untuk wilayah Samarinda saat ini di awal April belum dipengaruhi El Nino, karena fenomena itu belum aktif. Diperkirakan mulai aktif sekitar awal Mei sampai dengan Juli,” ujarnya diwawancarai media Jumat, 3 April 2026.
Fenomena yang kerap disebut sebagai El Nino “Godzilla” merujuk pada intensitas pemanasan suhu permukaan laut yang sangat kuat di wilayah ekuator Samudra Pasifik.
Kondisi ini berdampak pada penurunan curah hujan secara signifikan di wilayah Indonesia.
Situasi tersebut juga dapat diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang menyebabkan pembentukan awan hujan lebih banyak bergeser ke Samudra Pasifik, sehingga wilayah Indonesia mengalami kekosongan tutupan awan dalam waktu yang lebih lama.
Menurut Wiwi, tanda-tanda awal dari fenomena ini biasanya ditandai dengan kondisi cuaca yang semakin kering serta meningkatnya jumlah hotspot atau titik panas.
“Tanda-tandanya biasanya lebih kering dan tercatat lebih banyak titik panas,” jelasnya.
Saat ini, suhu udara di Samarinda juga terpantau lebih tinggi dari kondisi normal.
BMKG mencatat suhu maksimum harian mencapai kisaran 35 hingga 35,8 derajat Celsius.
“Kalau normalnya biasanya berkisar antara 30 sampai 33 derajat Celsius. Ini memang cukup tinggi dan biasanya terjadi saat musim kemarau,” tambahnya.
BMKG juga mencatat dalam beberapa hari terakhir telah muncul sejumlah titik panas di beberapa wilayah Kalimantan Timur, yang menjadi indikasi awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Seiring dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran karena sudah terpantau adanya hotspot di beberapa wilayah Kaltim.

