SERANG: Menteri Kebudayaan Fadli Zon dijadwalkan menjadi pembicara utama dalam Dialog Kebudayaan Anugerah Kebudayaan (AK) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat yang akan digelar di Serang, Banten, Minggu, 8 Februari 2026. Dialog ini mengusung tema “Membangun Kebudayaan dari Pinggir (Daerah)”.
Kepastian kehadiran Fadli Zon disampaikan saat ia menerima Direktur Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono, anggota Dewan Juri Nungki Kusumastuti, serta tim kelompok kerja (Pokja) di ruang kerjanya, Jumat 6 Februari 2026 sore. Kehadiran Yusuf mewakili Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir yang berhalangan hadir.
Dalam audiensi tersebut, Fadli Zon menegaskan pentingnya menghidupkan ruang-ruang kebudayaan di media massa, khususnya media daerah. Menurutnya, kebudayaan merupakan aset bangsa yang bersifat abadi.
“Nikel, batu bara akan habis suatu waktu, namun budaya tidak,” tegas Fadli Zon.
Ia juga mengapresiasi sepuluh bupati dan wali kota penerima Anugerah Kebudayaan PWI 2026 yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam memajukan kebudayaan di daerah masing-masing. Menurutnya, peran kepala daerah sangat menentukan dalam memberi ruang, perlindungan, dan keberlanjutan kebudayaan lokal.
Sementara itu, Yusuf Susilo Hartono menjelaskan bahwa para penerima anugerah telah melalui proses penilaian ketat. Penilaian tidak hanya didasarkan pada proposal tertulis, tetapi juga melalui presentasi langsung di hadapan Dewan Juri.
“Dari presentasi itu terlihat bagaimana perjuangan mereka memajukan budaya di daerahnya, sekaligus tantangan yang dihadapi,” ujar Yusuf.
Ia mencontohkan Wali Kota Samarinda Andi Harun yang mengeluhkan semakin berkurangnya jumlah penenun Sarung Samarinda. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Samarinda mengembangkan Kampung Tenun sebagai upaya pelestarian warisan budaya tersebut.
Contoh lain disampaikan dari Kabupaten Manggarai. Bupati Manggarai Hery Nabit berupaya menjaga keberlanjutan rumah adat mbaru gendang. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 92 rumah adat dibangun melalui skema pembiayaan bersama antara pemerintah daerah dan swadaya masyarakat.
Sementara itu, Bupati Temanggung Agus Setyawan tidak hanya melestarikan seni tari kuda lumping, tetapi juga terlibat langsung sebagai penari serta mendorong kaderisasi pelaku seni. Dewan juri bahkan merekomendasikan pendataan menyeluruh terhadap penari, pekerja seni, hingga pelaku UMKM yang terlibat dalam pertunjukan budaya.
Fadli Zon menegaskan pentingnya peran wartawan budaya dalam mendokumentasikan dan mengawal aktivitas kebudayaan di daerah. Ia juga menyambut baik gagasan pelatihan penulisan jurnalistik seni dan budaya bagi wartawan.
“Kita bisa melakukannya secara hibrida untuk wartawan di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap terjalin kerja sama berkelanjutan antara Kementerian Kebudayaan dan PWI dalam menyiapkan wartawan yang memiliki kompetensi khusus di bidang seni dan budaya.
Yusuf Susilo Hartono menambahkan, kerja sama serupa pernah dilakukan sebelumnya melalui program Sekolah Jurnalisme Kebudayaan.

