KUKAR: Fenomena perubahan warna dan kualitas air kembali teramati di Sungai Mahakam dalam beberapa waktu terakhir.
Air yang dikenal masyarakat sebagai air bangar itu memunculkan kekhawatiran, terutama di kalangan pembudidaya ikan yang menggantungkan hidup pada perairan sungai terpanjang di Kalimantan Timur (Kaltim) tersebut.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyatakan, kemunculan air bangar bukan peristiwa baru.
Kepala DKP Kukar, Muslik, menjelaskan fenomena tersebut merupakan siklus alam yang kerap berulang seiring perubahan debit air dari kawasan hulu Sungai Mahakam.
“Fenomena air bangar ini sebenarnya kejadian yang sudah biasa dan pernah terjadi berulang, bisa setahun sekali bahkan pada masa lalu sempat muncul dalam rentang beberapa tahun, umumnya setelah banjir di hulu dan air rawa kembali surut,” ujar Muslik saat dikonfirmasi, Jumat, 30 Januari 2026.
Ia menerangkan, Mahakam Tengah yang didominasi wilayah rawa berperan besar dalam proses terjadinya air bangar.
Kawasan ini menjadi tempat penumpukan berbagai material organik, mulai dari gulma hingga sisa tumbuhan air.
Ketika banjir di hulu surut, air rawa ikut turun dan membawa material tersebut masuk ke alur utama Sungai Mahakam.
Material organik yang terbawa arus itu kemudian mengalami pembusukan.
Menurut Muslik, proses tersebut berdampak langsung pada sifat kimia air, terutama ketika cuaca panas mempercepat dekomposisi.
“Air yang bersifat asam ini menyebabkan perubahan kualitas air secara tiba-tiba, seperti turunnya kadar pH dan menurunnya oksigen terlarut, sehingga ikan mengalami stres, tidak nafsu makan, bahkan menunjukkan gejala mabuk,” terangnya.
Perubahan mendadak itu, kata Muslik, memengaruhi hampir seluruh jenis ikan yang hidup di Sungai Mahakam.
Meski demikian, terdapat sejumlah komoditas yang dinilai lebih rentan terdampak karena kebutuhan oksigen yang tinggi atau kemampuan bergerak yang terbatas.
“Jenis ikan yang paling rentan biasanya ikan patin, udang, dan kelompok ikan putih lainnya, karena kebutuhan oksigennya tinggi dan pergerakannya tidak secepat ikan lain,” tuturnya.
Muslik menambahkan, secara alami ikan memiliki kemampuan membaca perubahan lingkungan.
Namun, pada kondisi air bangar yang terjadi secara cepat dan dalam volume besar, naluri tersebut tidak selalu mampu menyelamatkan ikan.
“Sebetulnya ikan bisa membaca perubahan lingkungan, tetapi karena perubahan ini terjadi sangat cepat dan massal, ikan tidak sempat berpindah ke lokasi yang lebih aman,” ungkapnya.
Menghadapi situasi tersebut, DKP Kukar telah menyampaikan sejumlah imbauan kepada para pembudidaya ikan, khususnya yang memanfaatkan perairan umum Sungai Mahakam.
Langkah-langkah antisipatif dinilai penting untuk meminimalkan potensi kerugian.
“Kami menyarankan agar pembudidaya melakukan panen lebih awal, melakukan penjarangan ikan, mengevakuasi indukan, serta menggunakan alat aerasi jika tersedia,” ujarnya.
Selain itu, DKP Kukar meminta pembudidaya tidak memaksakan pemberian pakan ketika kualitas air menurun.
Pemberian pakan dalam kondisi tersebut justru berpotensi memperburuk keadaan perairan.
“Pakan yang tidak termakan hanya akan menambah beban pencemaran air dan membuat kondisi ikan semakin tertekan,” tandas Muslik.
Hingga kini, DKP Kukar belum menerima laporan adanya kematian ikan dalam jumlah besar akibat fenomena air bangar.
Meski begitu, laporan mengenai penurunan nafsu makan ikan telah diterima dari sejumlah pembudidaya.
Muslik menegaskan, DKP Kukar akan terus melakukan edukasi dan pendampingan kepada pembudidaya ikan.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi fenomena alam serupa yang berpotensi kembali terjadi di kemudian hari.

