SAMARINDA: Program susur sungai untuk penanganan sampah hingga pendampingan intensif pasien Tuberkulosis (TBC) mulai dijalankan setelah Forum Kota Sehat (Forkots) Kota Samarinda dan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Cabang Samarinda resmi dikukuhkan untuk periode 2025-2030.

Kedua forum kesehatan masyarakat ini siap bergerak di tingkat akar rumput, mulai dari pembersihan sungai setiap dua minggu, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan RT, hingga screening TBC dan pendampingan pasien di seluruh kecamatan.
Pengukuhan Forkots dan PPTI dilakukan di Rumah Jabatan Wali Kota Samarinda, Rabu, 10 Desember 2025, disertai arahan langsung dari Wali Kota Samarinda Andi Harun.
Ketua Forkots dan PPTI Samarinda, Rinda Wahyuni Andi Harun, mengatakan Forkots segera mengaktifkan kembali kegiatan susur sungai bersama pemkot untuk mengurangi timbunan sampah yang memicu banjir di Kota Samarinda.
Selain itu, PPTI juga langsung memperkuat pendampingan pasien TBC melalui kunjungan rumah, bantuan obat, hingga distribusi kebutuhan dasar bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan.
“Kami sudah berjalan di lapangan, dalam dua minggu ini PPTI melakukan kunjungan dan pendampingan pasien TBC di 10 kecamatan. Bantuan obat, pendampingan pengobatan, sampai paket sembako kami berikan secara rutin,” jelas Rinda.
PPTI menilai stigma negatif menjadi hambatan terbesar dalam pengendalian TBC. Banyak warga masih menganggap TBC sebagai penyakit kutukan, penyakit memalukan, atau penyakit turunan sehingga ragu untuk berobat.
Menurut Rinda, forum mendorong perubahan cara pandang melalui edukasi langsung ke masyarakat, dimulai dengan screening, pemeriksaan keluarga terdekat, dan pendampingan psikologis kepada pasien.
“Tujuan kita satu, mengubah stigma. TBC bukan penyakit memalukan atau kutukan. Kalau rutin berobat dua bulan, kondisinya bisa terkendali, dan setelah enam bulan bisa sembuh total,” tegasnya.
Dalam arahanya, Wali Kota Samarinda Andi Harun, menekankan Forkots dan PPTI harus menjadi organisasi gerakan, bukan hanya wadah seremonial.
Menurutnya, kerja forum harus menyentuh langsung kebutuhan warga, mulai dari sanitasi, air bersih, pengelolaan sampah, hingga pencegahan penyakit menular.
“Forum ini tidak boleh pasif. Harus menjadi motor perubahan, menggerakkan gaya hidup sehat dari tingkat kota sampai RT,” ujar Andi Harun.
Ia menekankan bahwa dua forum ini menjadi “dua sayap” dalam mewujudkan Kota Sehat, penguatan kesehatan lingkungan oleh Forkots, dan pemberantasan penyakit menular oleh PPTI.
“Untuk PPTI, TBC bukan hanya penyakit medis, tapi juga persoalan sosial dan ekonomi. Karena itu, pendampingan dan deteksi dini harus agresif,” lanjutnya.
Pemerintah kota mengarahkan agar program Forkots dan PPTI berjalan beriringan dengan penguatan layanan dasar kesehatan melalui puskesmas dan pos kesehatan masyarakat.
Seluruh puskesmas di Samarinda telah memiliki layanan pengobatan TBC lengkap dan akan menjadi basis utama gerakan deteksi dini.
“Puskesmas adalah garda terdepan kampanye Germas, dan perangkat daerah lain harus mendukung dengan memperkuat sanitasi serta ruang publik,” kata Andi Harun.

