SAMARINDA: Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, menggagas gerakan membaca Al-Qur’an secara terstruktur di seluruh SMA dan SMK se-Kaltim.
Instruksi tersebut disampaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim agar program itu dijalankan secara sistematis di lingkungan sekolah, termasuk juga mengajak mahasiswa.
Tak hanya di sekolah, Rudy juga mengimbau agar kebiasaan tadarus dilakukan di rumah masing-masing. Ia mendorong masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, membiasakan membaca Al-Qur’an sebelum dan setelah salat Subuh selama Ramadan.
Menurutnya, gerakan ini bukan sekadar aktivitas keagamaan, tetapi bagian dari pembinaan disiplin, ketenangan batin, dan penguatan akhlak generasi muda Kaltim.
Dalam arahannya, Rudy menekankan Ramadan bukan sekadar peningkatan iman dan takwa, tetapi juga momentum membentuk disiplin dan karakter generasi muda.
“Ramadan ini bukan hanya soal iman dan takwa. Ini soal disiplin. Saat sahur kita disiplin waktu, saat berpuasa kita menahan diri. Begitu juga bekerja, harus ada target,” ujarnya usai melaksanakan salat Subuh berjemaah di Masjid Nurul Mu’minin, Jumat, 20 Februari 2026, yang dirangkai dengan kebersamaan bersama mahasiswa penerima program Gratispol Pendidikan.
Ia menilai kecerdasan tanpa karakter tidak cukup untuk membangun daerah.
“Yang pintar banyak, tapi yang berkarakter sedikit. Kita butuh akhlakul karimah. Itu yang harus dibentuk,” tegasnya.
Menurut Rudy, salat Subuh berjemaah memiliki makna pendidikan yang sangat kuat, terutama dalam membangun kedisiplinan waktu. Ia mengibaratkan Subuh sebagai momen kehidupan yang sering diabaikan.
“Subuh itu ibaratnya bernapas tapi tidak bernyawa. Banyak yang hidup, tapi belum benar-benar bangun untuk memulai aktivitasnya. Padahal di waktu inilah nilai pendidikan dan disiplin itu sangat kuat,” katanya.
Ia juga menyinggung pengalamannya saat berada di Los Angeles (LA), Amerika Serikat. Meski umat Islam menjadi minoritas di sana, aktivitas masyarakat sudah dimulai sejak dini hari.
“Di sana, waktu Subuh mereka sudah bergerak, sudah bekerja. Padahal agama Islam bukan mayoritas. Artinya, disiplin waktu itu kunci kemajuan,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong generasi muda Kaltim untuk membangun kebiasaan produktif sejak waktu Subuh.
“Kita butuh mental pemuda yang tangguh dan berkarakter untuk membangun Kalimantan Timur (Kaltim) ke depan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rudy secara khusus menginstruksikan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim untuk menggagas gerakan membaca Al-Qur’an di sekolah-sekolah tingkat SMA dan SMK.
“Saya minta Dinas Pendidikan bisa memberikan instruksi untuk menggerakkan membaca Al-Qur’an,” tegasnya.
Ia menekankan Al-Qur’an merupakan satu-satunya mukjizat para nabi yang masih terjaga hingga kini. Berbeda dengan mukjizat Nabi Ibrahim yang tidak terbakar api atau Nabi Musa yang membelah Laut Merah, mukjizat tersebut hanya berlaku pada masanya.
“Hari ini satu-satunya mukjizat yang masih tersimpan dan dijaga adalah Al-Qur’an. Nabinya sudah wafat, tapi mukjizatnya tetap ada dan terjaga,” ujarnya.
Menurut Rudy, gerakan membaca Al-Qur’an bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga sarana membangun karakter, ketenangan batin, serta kedisiplinan generasi muda.
“Kalau kita ingin Kaltim maju, bukan hanya infrastrukturnya yang dibangun. Mental dan akhlaknya juga harus dibangun,” pungkasnya.

