SAMARINDA: Harga bawang merah di Pasar Segiri, Samarinda, mengalami kenaikan signifikan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Kenaikan tersebut telah berlangsung hampir satu bulan dan dipicu terbatasnya pasokan dari daerah penghasil.
Salah seorang pedagang bawang, Riani (52), mengatakan harga bawang merah mulai merangkak naik sejak sekitar 20 hari lalu.
Dari sebelumnya berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram, kini tembus Rp65 ribu per kilogram.
“Hampir sebulan ini naik. Awalnya Rp35 ribu, sekarang sudah Rp65 ribu sekilo,” ujar Riani saat ditemui Narasi.co, Rabu, 17 Desember 2025.
Riani yang berjualan bersama suaminya, Muhammad (53), menyebut kenaikan harga bawang merah bukan disebabkan tingginya permintaan jelang Natal dan Tahun Baru, melainkan karena pasokan yang berkurang dari daerah produksi.
“Kalau bawang merah ini semua dari Sulawesi. Produksinya kurang, itu yang bikin naik. Kalau Natal enggak terlalu pengaruh,” jelasnya.
Berbeda dengan bawang merah, harga bawang putih relatif stabil masih di angka Rp35 ribu per kilogram.
Menurut Riani, meski ada kenaikan tipis di tingkat distributor, harga eceran masih cenderung normal dan belum berdampak signifikan ke pembeli.
“Bawang putih normal saja. Naik sedikit, tapi ecerannya masih sama,” katanya.
Riani menambahkan, lonjakan harga bawang merah biasanya justru lebih terasa saat memasuki bulan Ramadan dibandingkan perayaan Nataru.
Pada momen tertentu, harga bawang merah bahkan bisa menembus angka Rp120 ribu per kilogram.
“Kalau puasa itu biasanya paling tinggi. Bisa sampai Rp120 ribu kalau barang memang kurang,” ujarnya.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Riani mengungkapkan, jumlah pembeli cenderung menurun dan volume pembelian ikut berkurang.
“Biasanya beli satu kilo, sekarang paling seperempat kilo. Banyak juga yang cuma tanya-tanya,” ungkapnya.
Sebagian pembeli bahkan memilih beralih ke bawang putih sebagai pengganti karena harga bawang merah dinilai terlalu tinggi.
Terkait fluktuasi harga, Riani menilai faktor produksi tetap menjadi penentu utama.
Selama pasokan terbatas, harga cenderung naik tanpa memandang momen perayaan.
“Kalau barang kurang, pasti naik. Tergantung produksinya saja,” tegasnya.
Riani dan suaminya telah berjualan di Pasar Segiri sejak puluhan tahun lalu.
Muhammad tercatat mulai berdagang sejak 1986, sementara Riani bergabung sejak 1994.
Mereka berharap ke depan pasokan bawang kembali stabil agar harga lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Pedagang ikut harga. Mahal kita ambil mahal, jual juga mahal. Yang kena itu masyarakat,” tutup Riani.

