SAMARINDA: Umat Hindu di Samarinda mulai menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam dalam rangka Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1447.
Ibadah tersebut berlangsung sejak pukul 06.00 Wita hingga pukul 06.00 Wita keesokan harinya dengan menghentikan seluruh aktivitas sebagai bentuk pengendalian diri dan introspeksi.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Samarinda, Putu Subrata, menjelaskan bahwa pelaksanaan Nyepi merupakan momentum penting bagi umat Hindu untuk melakukan penyucian diri, baik secara lahir maupun batin.
“Mulai jam 6 pagi sampai 24 jam ke depan, kami menjalankan Catur Brata Penyepian. Ini adalah bentuk tapa brata atau pengendalian diri,” ujarnya saat diwawancarai usai pawai ogoh-ogoh di Pura Jagat Hita Karana, Jalan Sentosa, Samarinda, Rabu, 18 Maret 2026.
Dalam pelaksanaannya terdapat empat pantangan utama yang harus dijalankan umat Hindu yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian.
Pertama, Amati Geni, yakni tidak menyalakan api atau cahaya sebagai simbol pengendalian hawa nafsu.
Kedua, Amati Karya, yaitu tidak bekerja agar fokus pada introspeksi diri.
Selanjutnya, Amati Lelungan, yakni tidak bepergian dan tetap berada di rumah untuk melakukan perenungan.
Terakhir, Amati Lelanguan, yaitu tidak melakukan aktivitas hiburan atau kesenangan demi menjaga kesucian pikiran.
Selain itu, sebagian umat Hindu juga menjalankan puasa dengan tidak makan dan minum selama pelaksanaan Nyepi.
“Tidak hanya aktivitas fisik yang dihentikan, tetapi juga pengendalian diri dari keinginan-keinginan duniawi,” katanya.
Putu menambahkan bahwa pembatasan aktivitas selama Nyepi bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Momentum ini juga menjadi awal Tahun Baru Saka yang diharapkan membawa kehidupan yang lebih baik.
“Harapannya setelah Nyepi, kita kembali dalam keadaan bersih, baik pikiran maupun perilaku, sehingga kehidupan ke depan bisa lebih harmonis,” ujarnya.
Ia juga mengajak umat Hindu untuk menjalankan ibadah Nyepi dengan penuh kesungguhan agar makna spiritualnya dapat dirasakan secara maksimal.
Menariknya, pelaksanaan Nyepi tahun ini beriringan dengan bulan suci Ramadan.
Menurut Putu, kondisi tersebut justru mencerminkan kuatnya toleransi antarumat beragama di Samarinda.
“Kita sudah terbiasa hidup berdampingan. Muslim menjalankan ibadahnya, kami juga menjalankan. Tujuannya sama, yaitu menciptakan kedamaian,” ucapnya.
Ia berharap masyarakat luas turut mendukung pelaksanaan Nyepi dengan menjaga ketenangan selama umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian.
“Semoga semua bisa saling mendukung dan menjaga suasana tetap kondusif,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai-nilai dalam Nyepi tidak hanya relevan bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat tentang pentingnya menjaga keharmonisan.
“Semoga melalui Nyepi ini kita bisa menjaga alam semesta tetap damai dan kehidupan semakin harmonis,” tutupnya.

