SAMARINDA: Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama IKIP PGRI Kaltim, Abdul Rozak, menilai anggaran bantuan pendidikan Gratispol yang digulirkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur saat ini jauh lebih besar dibandingkan program Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT) sebelumnya.
Menurutnya, hal itu wajar karena cakupan penerima dan jenjang pendidikan yang dibiayai juga semakin luas.
“Kalau saya melihat tentu anggaran beasiswa sekarang jauh lebih besar. Dulu BKT itu ada indikator tertentu, misalnya prestasi atau kategori khusus. Kalau Gratispol ini semua mahasiswa yang memenuhi syarat bisa dapat. Seleksinya hanya administratif sesuai regulasi,” ujarnya, Rabu, 25 Februari 2026.
Rozak menjelaskan, pada 2026 pembiayaan tidak hanya menyentuh mahasiswa S1, tetapi juga S2 dan S3, termasuk aparatur sipil negara (ASN).
Hal ini membuat kebutuhan anggaran meningkat signifikan.
“Sekarang S2 dan S3 juga dibiayai. Bahkan ASN pun bisa dibiayai. Itu tentu membuat anggaran semakin besar,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa pada 2025 program di kampusnya baru menyentuh mahasiswa semester awal.
Sementara pada 2026, pembiayaan sudah menjangkau hingga semester 8.
“Kalau 2025 hanya semester 1, sekarang sudah bertambah semester 2, 4, sampai 8. Itu pasti lipatannya jauh lebih besar,” jelasnya.
Sebelumnya, dalam Rapat Paripurna DPRD Kaltim, Senin, 23 Februari 2026, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud membandingkan program Gratispol dengan Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT) era Isran Noor.
Rudy menyebut tahun ini Gratispol ditargetkan menyentuh 157.090 mahasiswa, meningkat sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan BKT dan Stimulan pada 2023 yang berjumlah 28.213 mahasiswa.
Dari sisi anggaran, Gratispol dialokasikan sebesar Rp813 miliar dalam satu tahun anggaran, sedangkan BKT sebesar Rp365 miliar.
Jika dihitung rata-rata per mahasiswa, Gratispol sekitar Rp5,17 juta per orang, sementara BKT mencapai Rp12,94 juta per mahasiswa.
Rozak menilai perbandingan tersebut menunjukkan adanya perluasan penerima manfaat, meski rata-rata nominal per mahasiswa berbeda.
“Sekarang yang penting terakreditasi dan memenuhi syarat, mahasiswa bisa dapat. Jadi memang cakupannya lebih luas,” pungkasnya.

