SAMARINDA: Pemerintah Kota Samarinda mulai mengoperasikan insinerator sampah Wisanggeni Generasi ke-7 di sejumlah titik sebagai bagian dari upaya penanganan darurat sampah. Saat ini, operasional masih dalam tahap uji coba di tiga lokasi, dengan target seluruh instalasi aktif sebelum Juni 2026.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Muhammad Taufiq Fajar menjelaskan bahwa proses pengolahan sampah dengan insinerator diawali dengan tahapan pemanasan mesin.
“Jadi tahapan pertama itu pemanasan mesin. Semua kondisi mesin dicek, mulai dari sistem elektrik hingga blower. Setelah itu baru dilakukan pemanasan,” ujarnya di wawancara media di TPS Jalan Wanyi Sempaja Utara, Jumat, 10 April 2026.
Ia menyebut, proses pemanasan membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan bantuan bahan bakar kayu untuk mempercepat kenaikan suhu. Sampah baru dimasukkan setelah suhu mesin mencapai minimal 600 derajat Celsius.
“Kalau sampah basah biasanya harus di atas 800 derajat baru dimasukkan, supaya pembakarannya optimal,” jelasnya.
Menurutnya, satu siklus pembakaran berlangsung sekitar setengah hari, dengan waktu pembakaran efektif hingga siang hari sebelum memasuki tahap pendinginan mesin.
Setelah proses pembakaran dihentikan, operator memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
“Setelah itu ada pengecekan akhir dan pembersihan. Operator juga diwajibkan membersihkan diri, karena kita sudah siapkan fasilitas kamar mandi dan ruang istirahat di lokasi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Pengawas operasional insinerator, Mustofa, menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 15 pekerja yang terbagi dalam tiga kelompok, berasal dari wilayah Lempake, Wanyi, dan Bukit Pinang.
“Total ada 10 titik insinerator, tapi yang berjalan baru tiga titik. Jadi sementara kita bagi tenaga kerja untuk tiga lokasi dulu,” ujarnya.
Tiga lokasi yang saat ini aktif yakni di kawasan Wanyi (Sempaja Utara), Loa Bahu, dan Folder Air Hitam. Sementara titik lainnya masih dalam tahap persiapan operasional.
Mustofa mengakui bahwa hingga kini belum ada keluhan signifikan dari para pekerja, meski ada kendala jarak bagi sebagian tenaga kerja.
“Mungkin hanya soal jarak, seperti dari Handil Bakti harus ke Samarinda. Tapi sejauh ini masih bisa diatasi,” katanya.
Namun, ia mengungkapkan bahwa tantangan utama saat ini adalah menemukan metode pembakaran yang paling efektif, terutama untuk jenis sampah yang belum terpilah.
“Kendala terbesar kita masih meraba-raba bagaimana pembakaran bisa sempurna, terutama untuk sampah campuran. Ini masih terus kita cari solusinya,” ungkapnya.
Dalam proses uji coba, DLH Samarinda juga masih berkoordinasi dengan pihak teknis, termasuk penyedia teknologi, untuk memastikan operasional berjalan optimal.
Ke depan, sistem operasional akan ditingkatkan secara bertahap dari satu titik ke beberapa titik sekaligus, hingga seluruh insinerator dapat beroperasi secara penuh.
Adapun rencana lokasi insinerator yang disiapkan tersebar di berbagai wilayah Kota Samarinda, di antaranya Jalan A.W. Syahranie (Folder Air Hitam), Jalan Pangeran Suryanata (TPA Bukit Pinang), Jalan Jakarta 2 dan Ring Road 2 di Loa Bahu, Jalan Wanyi di Sempaja Utara, hingga kawasan Palaran dan Samarinda Seberang.
Pemerintah menargetkan seluruh titik insinerator tersebut dapat beroperasi maksimal sebelum Juni 2026, sebagai langkah percepatan penanganan persoalan sampah di Kota Tepian.

