SAMARINDA: Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda Ismail Latisi mengingatkan aparat di tingkat RT, RW, lurah hingga camat agar lebih peka terhadap kondisi warga miskin dan rentan.
“Jangan sampai ada warga kita yang terabaikan, padahal ada program-program pemerintah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk membantu mereka,” tegasnya, saat musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) di Kecamatan Samarinda Ilir, Kamis, 5 Februari 2026.
Hal ini disampaikan menyusul kasus tragis seorang siswa sekolah dasar di Ngada Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri akibat tekanan ekonomi keluarga.
Ismail menilai, peristiwa tersebut menjadi alarm keras bahwa kemiskinan ekstrem masih nyata dan dapat berdampak fatal jika lingkungan sekitar abai.
Menurutnya, nilai uang yang kecil bagi sebagian orang bisa menjadi beban berat bagi keluarga tertentu.
“Rp10.000 mungkin bagi sebagian kita nilainya kecil. Tapi bagi keluarga yang hidup serba kekurangan, apalagi seorang ibu janda yang menghidupi lima anak, itu sangat berat,” ujar Ismail saat ditemui usai kegiatan Musrenbang.
Ia menegaskan, kasus tersebut tidak boleh dianggap sebagai peristiwa jauh yang hanya terjadi di daerah lain.
Menurutnya, tragedi serupa bisa terjadi di mana saja, termasuk di Samarinda, apabila kepekaan sosial di lingkungan tidak berjalan.
Ia mencontohkan Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) yang dapat digunakan untuk membantu kebutuhan dasar warga, termasuk membantu pembayaran iuran BPJS Kesehatan bagi keluarga tidak mampu.
“Pemerintah kota sudah membuka ruang itu. Tinggal bagaimana kita di lapangan peka dan mau bergerak,” katanya.
Ismail mengingatkan bahwa pembiaran terhadap warga miskin dan keluarga rentan bukan sekadar persoalan administratif, melainkan menyangkut tanggung jawab moral bersama.
“Kalau ada warga kita kelaparan, kekurangan, lalu kita abai karena tidak peka, itu bisa menjadi dosa berjamaah,” ujarnya.
Ismail berharap tragedi di NTT menjadi pelajaran bagi seluruh daerah, termasuk Kota Samarinda, agar lebih serius memetakan warga miskin ekstrem dan memastikan mereka tidak luput dari intervensi pemerintah.
“Harapannya, kita bisa memanfaatkan program yang ada sebaik-baiknya, tepat sasaran, dan berbasis kepekaan sosial. Jangan menunggu tragedi baru bertindak,” pungkasnya.

