SAMARINDA: Kondisi kesehatan jemaah haji Samarinda tahun 2026 menjadi perhatian serius, mengingat sebagian di antaranya masuk kategori risiko tinggi. Meski demikian, pendampingan dan kesiapan petugas dipastikan telah disiapkan secara optimal.
Kepala Seksi Pelayanan dan Fasilitas Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj dan Umrah Samarinda, Muhammad Djuni, menyebut mayoritas jemaah dalam kondisi baik, meskipun ada yang masuk kategori risiko tinggi.
“Memang ada yang risiko tinggi, tapi alhamdulillah rata-rata ada pendamping, sehingga memudahkan petugas,” ujarnya, diwawancarai usai pelepasan calon jemaah haji di GOR Segiri Samarinda, Minggu, 5 April 2026.
Ia mengungkapkan, jemaah tertua tahun ini berusia 88 tahun atas nama Ibu Saleha, sementara yang termuda berusia 17 tahun, Muhammad Fahri, yang berangkat menggantikan orang tuanya yang telah meninggal dunia.
Selama di embarkasi, jemaah akan mendapatkan berbagai fasilitas, mulai dari gelang identitas, paspor dan visa, uang saku (living cost), hingga konsumsi dan pembinaan manasik sebelum keberangkatan.
Untuk mendukung kelancaran ibadah, setiap kloter juga dilengkapi petugas yang terdiri dari ketua kloter, pembimbing ibadah, dokter, dan tenaga medis.
Secara keseluruhan, terdapat sekitar 18 petugas haji yang akan mendampingi jemaah asal Samarinda.
Djuni mengimbau seluruh jemaah untuk menjaga kondisi kesehatan menjelang keberangkatan agar tidak mengalami kendala saat pemeriksaan di asrama haji.
“Kita harapkan jemaah menjaga kesehatan, supaya saat di asrama dan di Tanah Suci tetap aman dan tidak ada yang tertinggal,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar jemaah mematuhi aturan yang berlaku di Arab Saudi selama pelaksanaan ibadah haji.
“Mudah-mudahan semua jemaah bisa menjalankan ibadah dengan lancar dan sesuai ketentuan,” pungkasnya.

