SAMARINDA: Menyusul insiden tongkang yang menyenggol rumah warga dan pilar Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Sungai Mahakam, Minggu, 4 Januari 2026 dini hari kemarin, Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud menyatakan jembatan tersebut tidak direkomendasikan untuk dilintasi sebelum sistem pengaman berupa fender dipasang.
Rudy menyebut insiden tersebut menambah daftar kejadian serupa dalam waktu berdekatan dan harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Jembatan ini tidak kami rekomendasikan untuk dilintasi sebelum fender-nya terpasang,” ujar Rudy Mas’ud, Senin, 5 Januari 2026.
Menurutnya, fender merupakan satu-satunya sistem yang mampu menjaga keamanan struktur jembatan dari risiko benturan kapal, ponton maupun tongkang.
Tanpa pengaman tersebut, keselamatan infrastruktur dinilai tidak terjamin.
Ia menegaskan, Jembatan Mahakam Ulu memiliki fungsi strategis sebagai jalur utama distribusi logistik di Kaltim.
Seluruh arus barang dari Balikpapan dan Samarinda Seberang, termasuk dari kawasan pelabuhan kontainer, bergantung pada jembatan tersebut untuk menuju Samarinda Kota, Bontang, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, hingga wilayah utara Kaltim.
“Ini satu-satunya jembatan untuk kegiatan logistik. Jembatan Mahkota II tidak bisa dilewati, sementara Jembatan Mahakam sudah sangat tua dan tidak memungkinkan dilintasi kendaraan berat,” jelasnya.
Rudy juga memastikan pemerintah provinsi akan segera melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait untuk membahas langkah teknis lanjutan pascainsiden tersebut.
“Hari ini kita akan rapatkan bersama pihak-pihak terkait. Ini menyangkut keselamatan jembatan dan kelancaran distribusi logistik daerah,” tegas Rudy Mas’ud.
Insiden di Jembatan Mahakam Ulu sendiri saat ini masih dalam proses investigasi teknis oleh pemerintah provinsi bersama instansi terkait.

