SAMARINDA: Ada satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada bulan Ramadan, khususnya di sepuluh malam terakhir saat umat Muslim mengejar malam Lailatul Qadar.
Doa ini secara langsung diajarkan Rasulullah SAW kepada Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ia bertanya tentang amalan yang sebaiknya dibaca jika bertemu malam kemuliaan tersebut.
Penjelasan itu disampaikan Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (UINSI), Muhammad Yamin, dalam Kajian Pengantar Iftar di Islamic Center Kalimantan Timur, bertepatan dengan 10 Ramadan 1447 Hijriah, Sabtu, 28 Februari 2026.
Muhammad Yamin menjelaskan, doa yang diajarkan Rasulullah SAW tersebut berbunyi:
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni
(Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf menghapus kesalahan karenanya maafkanlah aku hapuslah dosa-dosaku).
Doa ini bersumber dari hadits riwayat Imam Tirmidzi nomor 3513 dan Ibnu Majah nomor 3850. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata.
“Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang mesti kuucapkan?” Rasulullah menjawab, “Ucapkanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Imam Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih. Hadits tersebut juga dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram nomor 706, dalam bab keutamaan meminta maaf dan ampun kepada Allah.
Muhammad Yamin menerangkan, lafaz “innaka ‘afuwwun” bermakna Allah adalah Dzat Yang banyak memberi maaf dan menghapus dosa hamba-Nya.
Doa ini tergolong doa yang jaami’ ringkas namun sarat makna.
“Doa ini mengandung ketundukan seorang hamba kepada Allah dan pengakuan bahwa dirinya tidak luput dari dosa. Maka yang paling utama diminta di malam Lailatul Qadar adalah ampunan,” jelasnya.
Ia juga mengutip penjelasan Al-Baihaqi rahimahullah dalam Fadho-ilul Awqot bahwa meminta ampunan dianjurkan setiap waktu dan tidak hanya terbatas pada malam Lailatul Qadar saja.
Namun, pada malam tersebut, permohonan ampun menjadi sangat istimewa karena kemuliaan waktunya.
Muhammad Yamin turut membacakan penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoiful Ma’arif:
“Sesungguhnya perintah memohon al-‘afwu pada malam Lailatul Qadar setelah bersungguh-sungguh beramal di dalamnya dan di sepuluh hari terakhir Ramadan, agar orang yang arif ketika bersungguh-sungguh dalam beramal tidak melihat amalnya sempurna, lalu ia kembali meminta pemaafan seperti keadaan seorang yang berdosa dan penuh kekurangan.”
Menurutnya, inilah sikap seorang hamba yang benar dalam beribadah tidak merasa bangga dengan amal, tetapi tetap merasa kurang dan kembali memohon pengampunan.
Ia juga menyampaikan perkataan Yahya bin Mu’adz:
“Bukanlah orang yang arif jika ia tidak menjadikan pemaafan dari Allah sebagai puncak harapannya.”
Selain itu, hadits ‘Aisyah tersebut menunjukkan bahwa doa pada malam Lailatul Qadar adalah doa yang mustajab, sehingga Aisyah secara khusus bertanya kepada Rasulullah tentang doa terbaik yang harus dipanjatkan.
“Hadits ini juga mengajarkan adab berdoa, yakni bertawassul dengan menyebut nama dan sifat Allah yang sesuai dengan permintaan. Kita memuji Allah sebagai Dzat Yang Maha Pemaaf sebelum memohon ampunan,” terangnya.
Ia menegaskan, sifat ‘afwu (Maha Pemaaf) dan mahabbah (cinta) adalah bagian dari sifat Allah yang ditetapkan sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolak maknanya.
Memasuki hari ke-10 Ramadan ini, Muhammad Yamin mengajak umat Muslim untuk mulai meningkatkan kualitas ibadah sebagai persiapan menyambut sepuluh malam terakhir.
“Memohon ampun tidak terbatas pada Ramadan saja. Namun ketika kita bersungguh-sungguh beribadah di malam-malam terakhir, jangan merasa cukup dengan amal. Kembalilah kepada permohonan ampun, karena itulah inti dari doa yang diajarkan Rasulullah SAW,” pungkasnya.

