SAMARINDA: Usaha tenun sarung Samarinda yang telah bertahan puluhan tahun kini menghadapi tantangan besar.
Di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif, pengrajin lokal merasa minimnya perhatian dari pemerintah menjadi hambatan utama untuk terus mengembangkan usahanya.
Hal itu dirasakan oleh Muhammad Arsyad, pemilik Toko UD. Cahaya Samarinda, yang telah menjalani profesinya sebagai pengrajin sarung tenun Samarinda selama lebih dari 30 tahun.
Meskipun usahanya telah menjadi bagian dari warisan budaya kota, Arsyad merasa bahwa usaha tenun ini menghadapi tantangan besar di tengah perkembangan industri kreatif yang pesat.
Terlepas dari tingginya permintaan dan kualitas produknya yang terus diminati pelanggan dari berbagai daerah, Arsyad mengaku merasa perlu dukungan pemerintah, terutama dalam penyediaan bahan baku yang terjangkau untuk menjaga kelangsungan usaha yang telah diwariskan turun-temurun ini.
Sebagai pengrajin senior, Arsyad menuturkan tidak pernah melakukan promosi secara online.
Meski demikian, sarung tenun buatannya tetap diminati, dan menurutnya, hal itu karena kualitas produk yang terus dijaga.
“Saya tidak pernah jual online. Yang penting kualitas sarung yang saya buat diutamakan,” ujarnya saat ditemui di tokonya pada Jumat, 26 Desember 2025.
Namun, Arsyad mengungkapkan meskipun kualitas produk yang dihasilkan sudah diakui, ia merasa ada kekurangan perhatian nyata dari pemerintah.
Ia menyebutkan bahwa selama ini, program pemerintah lebih banyak berupa pelatihan singkat yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan pengrajin berpengalaman.
“Hanya menawarkan pelatihan-pelatihan. Bagi saya tidak efisien. Karena kita ini sudah puluhan tahun kerja membuat sarung ini,” jelasnya.
Menurut Arsyad, pelatihan yang hanya berlangsung sehari dinilai kurang bermanfaat dan lebih banyak menghabiskan anggaran daripada memberikan dampak nyata pada kesejahteraan pengrajin.
Sebagai solusi, Arsyad mengusulkan pemerintah perlu lebih fokus pada penyediaan bahan baku, yang dinilai akan memberikan manfaat langsung untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan pengrajin.
“Kalau programnya beli bahan baku, itu yang bisa membantu pengrajin,” tambahnya.
Lebih jauh, Arsyad juga menyinggung soal tantangan regenerasi pengrajin.
Banyak pengrajin yang sudah lanjut usia dan kesulitan dalam melanjutkan warisan tenun ini.
Ia berharap agar pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada pengrajin lokal agar warisan budaya tenun Samarinda tetap dapat berkembang dan bertahan di tengah persaingan industri.
“Bantu pengrajin dengan dukungan yang lebih konkrit, bukan hanya pelatihan yang tidak berdampak langsung. Kami butuh dukungan untuk terus berproduksi dan mempertahankan kualitas yang sudah kami jaga selama ini,” tutup Arsyad.

