JAKARTA: Pemerintah terus berupaya memberikan layanan terbaik bagi jemaah yang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Peningkatan kualitas pelayanan tersebut diawali dengan penyiapan petugas haji yang profesional, tangguh, dan berintegritas melalui pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan.
Pada musim haji 1447 H/2026 M, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mulai menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bagi sekitar 1.400 peserta.
Kegiatan ini dilaksanakan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, dan dibuka secara resmi pada Minggu, 11 Januari 2026, oleh Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan).
Dalam arahannya, Gus Irfan menegaskan bahwa para petugas yang akan melayani jemaah haji di Arab Saudi harus menjadi sosok yang siap secara mental dan fisik, serta mampu memberikan pelayanan maksimal selama penyelenggaraan ibadah haji.
Diklat PPIH ini mencakup sembilan bidang layanan dan dirancang sebagai sarana penguatan kesiapan mental, fisik, serta profesionalisme petugas dalam menjalankan tugas di Tanah Suci.
Salah satu penekanan utama dalam diklat tersebut adalah kedisiplinan.
“Pelanggaran paling berat adalah indisipliner. Jika saat diklat sudah tidak disiplin, apalagi di Arab Saudi sampai meninggalkan tugas. Itu tidak bisa ditoleransi. Pelanggaran akan diberi peringatan,” tegas Gus Irfan.
Ia menambahkan, apabila peserta diklat mendapat peringatan satu hingga dua kali namun tidak menunjukkan perbaikan, maka yang bersangkutan dapat dipulangkan dan tidak diberangkatkan sebagai petugas haji.
“Bahkan jika sudah berada di Arab Saudi, lalu tetap indisipliner meski telah diperingatkan dua kali, maka akan dipulangkan sebelum masa tugasnya berakhir,” lanjutnya.
Diklat ini merupakan bagian dari proses penguatan kapasitas, integritas, dan profesionalisme petugas haji, sekaligus menjadi momentum penyampaian arah kebijakan serta penekanan strategis pimpinan Kemenhaj RI kepada para calon petugas.
Gus Irfan menjelaskan bahwa diklat PPIH Arab Saudi 1447 H/2026 M berlangsung selama 30 hari, dengan rincian 20 hari pelatihan tatap muka di Asrama Haji Pondok Gede dan 10 hari pelatihan secara daring.
“Hari ini kita mulai diklat selama 30 hari, 20 hari di sini dan 10 hari dilanjutkan secara online,” jelasnya.
Salah satu materi penting dalam diklat kali ini adalah penguatan kemampuan bahasa Arab bagi calon petugas haji.
Hal tersebut dilakukan sebagai evaluasi dari penyelenggaraan haji sebelumnya.
“Salah satu kendala pada tahun lalu adalah keterbatasan kemampuan bahasa Arab petugas. Karena itu, pada diklat kali ini kami berikan pelatihan bahasa Arab dengan tutor khusus dari lembaga bahasa,” ujarnya.
Selain itu, Kemenhaj juga menyiapkan tutor khusus untuk meningkatkan pelayanan ramah perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas.
“Untuk ramah perempuan ada tutor khusus, ramah lansia ada tutor khusus, dan ramah disabilitas juga ada tutor khusus,” kata Gus Irfan.
Para calon petugas haji juga telah dibekali informasi terkait tugas dan lokasi penempatan sejak mengikuti diklat di asrama haji.
“Sejak di sini mereka sudah tahu akan bertugas di mana, posisinya apa, siapa kepala posnya, dan siapa rekan kerjanya. Jadi saat berangkat ke Arab Saudi, mereka sudah siap menjalankan tugas,” jelasnya.
Menurut Gus Irfan, tantangan terbesar dalam penyelenggaraan haji adalah memastikan kesiapan kesehatan jemaah, yang menjadi salah satu fokus perhatian Pemerintah Arab Saudi.
“Kedisiplinan dan kesamaptaan fisik petugas harus dipersiapkan dengan matang. Tanpa fisik yang kuat dan disiplin yang tinggi, petugas tidak akan mampu menjalankan tugas dengan optimal,” tegasnya.
Sebagai informasi, jumlah PPIH Arab Saudi pada penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M mencapai lebih dari 4.000 orang, dengan 185 di antaranya berasal dari unsur TNI dan Polri.

