JAKARTA: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjangkau 55,1 juta penerima manfaat per hari, melonjak jauh dari target awal 6 juta orang.
Seiring perluasan cakupan tersebut, Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk mengawal mutu dan keamanan pangan agar makanan yang dibagikan tetap aman, layak, dan higienis.
Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin Paulus Oktavianus, menyampaikan bahwa peran utama Kemenkes dalam pelaksanaan MBG adalah pengawasan, khususnya pada standar keamanan pangan di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah.
“Jadi kami dari Kementerian Kesehatan punya tugas adalah pengawasan,” ujarnya dalam konferensi pers di SMKN 1 Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
Pengawasan dilakukan melalui kerja sama dengan dinas kesehatan daerah untuk memastikan seluruh proses pengolahan makanan memenuhi standar kesehatan.
Salah satu instrumen utamanya adalah sertifikasi laik higienis dan layak konsumsi bagi dapur SPPG.
“Maka keluarlah sertifikat untuk layak dimakan dan higienis,” jelas dr. Benjamin yang akrab disapa dr. Benny.
Hingga saat ini, 4.535 dapur SPPG telah dinyatakan lulus sertifikasi.
Proses sertifikasi mencakup evaluasi menyeluruh, mulai dari kebersihan dapur, tata kelola pengolahan makanan, hingga pemeriksaan laboratorium.
Dapur yang belum memenuhi standar diwajibkan melakukan perbaikan sebelum dapat beroperasi.
Melalui pengawasan ini, Kemenkes memastikan puluhan juta penerima manfaat mulai dari anak sekolah hingga ibu hamil mendapatkan makanan yang aman dan bergizi.
Capaian tersebut disebut sebagai langkah signifikan menuju target nasional 82 juta penerima manfaat MBG.
“Kalau kita melihat angka pelayanan hari ini 55,1 juta, baik anak sekolah maupun ibu-ibu hamil, ini suatu hal yang luar biasa dari target 82 juta target MBG,” pungkas dr. Benny.

