SAMARINDA: Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri meminta jajaran kecamatan dan kelurahan untuk melaksanakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) sesuai dengan kemampuan finansial yang ada tanpa harus memaksakan diri.
Hal tersebut menanggapi adanya tantangan anggaran pada tahun 2026 yang menyebabkan beberapa kecamatan sempat menunda pelaksanaan agenda tahunan tersebut.
“Harapan kita dilaksanakan sesuai kemampuanlah. Tidak usah berlebih-lebihan, daripada kita punya utang. Yang penting tidak mengurangi hikmah dan gotong royongnya,” ujarnya kepada awak media, Jumat, 3 April 2026.
Menurutnya, meski dilaksanakan secara sederhana, nilai religi dan esensi dari MTQ harus tetap terjaga dengan baik di tengah masyarakat.
“Sederhana tapi religi yang kita harapkan bisa terlaksana dengan baik. Keberhasilan itu terletak pada sejauh mana semangat membaca Al-Qur’an terus hidup di rumah-rumah dan masjid,” katanya.
Saefuddin menyebutkan bahwa saat ini sebagian besar pelaksanaan MTQ tingkat kecamatan di Samarinda dilakukan secara swakelola dan swasembada oleh pihak kecamatan serta kelurahan.
“Ini kebanyakan adalah swakelola. Kalau dikalkulasikan (bantuan pemkot) memang tidak seberapa nilainya, tapi yang paling penting adalah semangat anak-anak untuk belajar menghayati Al-Qur’an,” jelasnya.
Meski terdapat keterbatasan anggaran operasional, Pemerintah Kota Samarinda memastikan tetap memberikan apresiasi berupa uang pembinaan bagi para peraih juara umum.
“Pemerintah kota akan memberikan apresiasi untuk juara umum pertama sebesar Rp5 juta, juara umum kedua Rp3 juta, dan juara umum ketiga Rp2 juta. Ini untuk mendorong semangat anak-anak kita,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemberian bonus tersebut merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam mendukung peningkatan kapasitas generasi muda di bidang keagamaan.
“Kita ingin anak-anak menjadi saleh dan salihah. Dengan kecintaan terhadap Al-Qur’an, insyaallah kota kita menjadi kota yang baik (makmur, aman, subur) dan Tuhan Yang Maha Pengampun” tuturnya.
Menutup pernyataannya, Saefuddin turut berpesan kepada seluruh kafilah agar tetap rendah hati dan menjadikan ajang ini sebagai ruang pembinaan yang berkelanjutan, bukan sekadar mengejar kemenangan saat perlombaan saja.
“Jangan jumawa atau sombong. Berjuang terus untuk belajar yang lebih baik lagi ke depannya,” pungkasnya.

