Di ujung Jalan Yos Sudarso, tepat di kawasan hilir Sungai Mahakam dan dekat muara Karang Mumus, berdiri bangunan merah-emas yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Samarinda.
Klenteng Thien Ie Kong bukan sekadar tempat ibadah, melainkan jejak panjang eksistensi komunitas Tionghoa di Bumi Etam.

Kelenteng ini didirikan pada 1903 dan mulai digunakan pada 1905. Pembangunannya diprakarsai Letnan Oey Khoey Gwan yang juga dikenal sebagai Thjing Tjawan atau Oey Kun Khue Gwan, dengan dukungan swadaya masyarakat Tionghoa setempat.
Dana pembangunan saat itu dihimpun hingga mencapai sekitar 50.000 gulden pada era kolonial Hindia Belanda.
Nama “Thien Ie Kong” berarti “Istana Raja Langit” atau “Tuhan yang Maha Besar”, mencerminkan ajaran Taoisme yang menjadi dasar filosofinya.
Seiring waktu, khususnya sekitar 1940-an, klenteng ini berkembang menjadi tempat peribadatan Tri Dharma, yakni Konghucu, Buddha, dan Tao.
Keberadaan klenteng tidak dapat dilepaskan dari sejarah kawasan Pecinan Samarinda.
Mengutip Muhammad Sarip dalam bukunya Samarinda Tempoe Doeloe Sejarah Lokal 1200–1999, kelompok etnis Tionghoa banyak mendiami kawasan Straat Te-eng (kini Jalan Yos Sudarso) hingga Bloem Straat (Jalan Mulawarman) serta Jalan Niaga Timur di Komplek Pinang Babaris. Kawasan tersebut dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat Tionghoa.
Dalam literatur lain seperti karya Chai Siswandi, disebutkan salah satu versi asal-usul nama Kutai diduga berasal dari bahasa Tionghoa “Kho-Thay” yang berarti Kerajaan Besar.
Hal ini menunjukkan relasi panjang masyarakat Tionghoa dengan wilayah Kalimantan Timur.
Secara fisik, bangunan klenteng relatif tidak banyak berubah sejak pertama kali berdiri. Perbaikan hanya dilakukan pada bagian lantai dan atap, sementara struktur utama tetap dipertahankan.
Hansen selaku pengurus klenteng menjelaskan bahwa dalam proses pembangunannya tidak digunakan satu pun paku. Teknik konstruksi tradisional dengan sistem kayu saling mengunci membuat bangunan tetap kokoh meski telah melewati lebih dari satu abad.
Kelenteng memiliki delapan tiang penyangga, salah satunya tampak sedikit miring. Kemiringan tersebut merupakan dampak ledakan bom Jepang pada 1940-an yang menargetkan pabrik minyak di belakang bangunan saat Perang Dunia II.
Ledakan itu nyaris merobohkan bangunan, namun struktur kayu yang kuat membuatnya tetap bertahan. Di bagian tengah bangunan terdapat atap terbuka sebagai ventilasi alami, dengan sumur di bawahnya yang airnya terhubung langsung dengan Sungai Mahakam.
Elemen ini tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai simbolis dalam tradisi Tionghoa.
Ornamen naga dan burung phoenix menghiasi atap sebagai lambang kekuatan dan kemakmuran.
Warna merah dan emas mendominasi bangunan, melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Di altar utama tersusun patung-patung dewa dan dewi, di antaranya Dewi Makco Thian Siang Sing Bo yang dikenal sebagai pelindung laut dan sungai, serta Dewa Kongco Hian Thian Siang Te dan Dewa Kwan Sing Tee Kun.
Awalnya, klenteng ini merupakan tempat peribadatan agama Konghucu.
Namun sekitar 1940-an, seiring hadirnya patung Buddha dan pengaruh Taoisme yang semakin kuat, klenteng ini berkembang menjadi tempat ibadah Tri Dharma.
Perubahan tersebut terjadi secara alami mengikuti perkembangan keyakinan masyarakat Tionghoa setempat.
Dengan kapasitas sekitar 100 orang, umat yang hendak beribadah harus masuk secara bergantian, terutama saat perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh.
Pada momen tersebut, kawasan sekitar klenteng berubah menjadi pusat perayaan budaya dan spiritual yang meriah.
Selain sebagai pusat ibadah, klenteng ini juga menjadi destinasi wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Banyak pengunjung datang untuk menyaksikan arsitektur klasiknya sekaligus merasakan atmosfer historis yang masih terjaga.
Pada 2021, Pemerintah Kota Samarinda menetapkan Klenteng Thien Ie Kong sebagai cagar budaya melalui Keputusan Wali Kota Nomor 432/360/HK-KS/XI/2021 yang ditandatangani atas nama Wali Kota Andi Harun. Penetapan tersebut menegaskan komitmen pelestarian warisan sejarah kota.
Lebih dari satu abad berdiri, Klenteng Thien Ie Kong telah melewati era kolonial Hindia Belanda, pendudukan militer Jepang, hingga masa Republik Indonesia. Bangunan ini menjadi saksi transformasi Samarinda dari kota tepian sungai menjadi pusat pertumbuhan di Kalimantan Timur.
Di tengah modernisasi dan pembangunan kota, klenteng ini tetap berdiri dengan bentuk asli yang nyaris tak berubah.
Ia bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol kerukunan dan keberagaman yang telah lama tumbuh di Samarinda—pelita sejarah di tepian Mahakam yang terus menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

