BANDUNG: Keterbatasan lapangan kerja bagi generasi muda mendorong pemerintah menyiapkan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih sebagai alternatif baru penyerapan tenaga kerja, terutama bagi milenial, generasi Z, hingga generasi Alpha di wilayah pedesaan.
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan Kopdes Merah Putih dirancang bukan sekadar sebagai lembaga simpan pinjam, melainkan sebagai badan usaha modern yang mampu mengakomodasi potensi, kreativitas, dan semangat kewirausahaan generasi muda.
“Sudah saatnya koperasi menjadi pilihan bagi milenial dan generasi Z untuk berkarya dan mendapatkan pekerjaan,” kata Ferry saat memberikan sambutan dalam Seminar Kebebasan Finansial Melalui Entrepreneur dan Bisnis yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Padjadjaran (IKA UNPAD) di Bandung, Sabtu 24 Januari 2026.
Menurut Ferry, bonus demografi yang saat ini dimiliki Indonesia harus diantisipasi dengan penciptaan lapangan kerja alternatif di luar sektor formal. Berdasarkan data Kementerian Koperasi, jumlah generasi Z saat ini mencapai sekitar 11 juta orang dan diperkirakan meningkat hingga 25 juta dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan sektor formal. Harapan Presiden jelas, Kopdes Merah Putih harus menjadi alternatif nyata penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.
Ferry menjelaskan, model Kopdes Merah Putih memiliki kesesuaian dengan karakter generasi muda yang lebih fleksibel, berbasis komunitas, dan berjiwa entrepreneur. Kopdes dapat menjadi wadah bagi berbagai jenis usaha kreatif, termasuk konten kreator, animator, hingga pelaku ekonomi digital yang selama ini kesulitan mengakses pembiayaan awal.
Ia mencontohkan, generasi muda yang membentuk koperasi dapat memperoleh pembiayaan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) sebelum mendapatkan kontrak kerja atau proyek produksi. Setelah usaha berjalan dan kontrak diperoleh, pembiayaan lanjutan dapat dilakukan melalui skema kredit usaha rakyat (KUR) dengan pola pembiayaan bersama.
“Begitu mereka bikin koperasi, LPDB bisa membiayai. Setelah ada kontrak, bank penyalur KUR bisa ikut masuk. Ini sangat membantu generasi muda,” jelasnya.
Selain membuka lapangan kerja, Kopdes Merah Putih juga diharapkan mampu menggerakkan perputaran ekonomi di desa secara lebih masif. Aktivitas usaha koperasi, mulai dari distribusi barang, jasa, hingga sektor kreatif dan digital, diyakini dapat memperkuat ekonomi lokal sekaligus mengurangi ketimpangan desa-kota.
Ferry menekankan, keberhasilan Kopdes Merah Putih membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, serta komunitas anak muda di desa. Dengan ekosistem yang terbangun, koperasi diyakini mampu menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional dari desa.
“Kalau perputaran ekonomi desa makin masif, secara agregat ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Desa bukan lagi objek, tapi subjek pembangunan,” katanya.
Seminar tersebut turut dihadiri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, Ketua Dewan Penasihat IKA UNPAD Kang Omay K. Wiraatmadja, jajaran pengurus IKA UNPAD, serta ratusan peserta dari kalangan mahasiswa dan alumni.

