SAMARINDA: Martabak bakar menjadi salah satu kuliner yang paling diburu pengunjung dalam gelaran Samarinda Wisata Belanja Ramadan 2026 di kawasan GOR Segiri.
Menu berbuka puasa ini tak hanya menarik karena rasanya, tetapi juga karena kisah usaha turun-temurun yang terus dijaga hingga kini.
Di salah satu lapak yang ramai pembeli, Caca Handika tampak sibuk melayani antrean.
Usaha martabak yang dijalankannya bukan bisnis baru.
Ia meneruskan resep keluarga yang diwariskan dari sang kakek, kemudian ibunya, hingga kini ia kelola sendiri selama kurang lebih 10 tahun.
“Ini sebenarnya sudah lama, dari kakek ke ibu lalu ke saya. Kalau saya sendiri sudah sekitar 10 tahun menjalankan,” ujarnya, Sabtu, 21 Februari 2026.
Meski resepnya sudah turun-temurun, nama “martabak bakar” baru diperkenalkan sekitar empat tahun terakhir.
Sebelumnya, produk tersebut hanya dikenal sebagai martabak isi tanpa nama khusus.
Pemberian nama itu justru menjadi titik awal usahanya lebih dikenal luas.
“Dulu belum ada nama khusus, hanya martabak isi saja. Setelah diberi nama martabak bakar, baru orang-orang mulai kenal,” katanya.
Keunikan martabak ini terletak pada komposisi bahan dan teknik pengolahannya.
Lapisan kulit menggunakan telur tanpa campuran air, sementara isiannya memadukan kentang, wortel, serta daging ayam dan sapi yang dibumbui berbagai rempah.
Setidaknya ada sekitar 12 jenis rempah yang digunakan, mulai dari kapulaga hijau, cengkeh, pala, lada hitam, hingga lada putih.
Perpaduan bumbu Nusantara dan sentuhan rempah Timur Tengah menciptakan cita rasa berbeda dibandingkan martabak pada umumnya.
Walaupun bukan orang Arab, ia ingin memiliki ciri khas sendiri agar rasanya berbeda dengan martabak lainnya.
Dalam proses pembuatannya, persiapan bahan memakan waktu cukup lama karena seluruh isian dimasak terlebih dahulu agar lebih tahan lama.
Namun, saat pesanan datang, martabak bisa disajikan relatif cepat.
“Kalau dari awal bisa sekitar 25 menit, tapi kalau setengah matang paling lama 10 menit, bahkan bisa 5 menit,” jelasnya.
Dari sisi penjualan, Caca mengaku omzet kotor per hari selama Ramadan bisa mencapai lebih dari Rp4 juta, dengan keuntungan bersih sekitar Rp2 juta.
Angka tersebut cukup stabil karena tingginya minat pengunjung pasar Ramadan.
Selain berjualan di GOR Segiri selama Ramadan, ia biasanya membuka lapak setiap Minggu pagi di kawasan Stadion Sempaja serta mengikuti berbagai event kuliner di Samarinda.
Harga martabak bakar dibanderol Rp30 ribu untuk varian ayam dan Rp35 ribu untuk varian daging per porsi.
Di tengah ketatnya persaingan kuliner Ramadan, Caca memilih tetap menjaga kualitas rasa dan resep keluarga sebagai kekuatan utama usahanya.
Baginya, Ramadan bukan hanya momentum meningkatkan penjualan, tetapi juga kesempatan mempertahankan warisan kuliner keluarga agar tetap dikenal dan diminati generasi berikutnya.

