Laporan Wartawan Narasi.co, Adi Rizki
Masjid Istiqlal menjadi salah satu tempat ibadah sekaligus destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat dan wisatawan saat berkunjung ke Jakarta.
Pada kunjungan pertama saya ke masjid terbesar di Asia Tenggara ini, suasana tenang dan tertata langsung terasa, kontras dengan hiruk pikuk lalu lintas ibu kota di sekelilingnya.
Masjid yang berada di kawasan Jakarta Pusat tersebut tampak megah dengan desain arsitektur modern dan ruang utama yang sangat luas.
Pilar-pilar besar dan langit-langit tinggi menciptakan sirkulasi udara alami, membuat suasana di dalam masjid terasa sejuk meski cuaca Jakarta cukup terik.
Masjid Istiqlal dirancang oleh arsitek Frederich Silaban, seorang non-Muslim, yang memenangkan sayembara desain.
Arsitekturnya menggabungkan pendekatan modern dengan nilai-nilai Islam, tercermin dari kubah besar, pilar-pilar megah, serta ornamen kaligrafi yang menghiasi sejumlah bagian masjid.
Nama “Istiqlal” sendiri berarti kemerdekaan.
Pembangunan masjid ini dimulai pada 1961 dan diresmikan pada 1978 oleh Presiden Soeharto.
Pada 2019, Masjid Istiqlal menjalani renovasi besar-besaran yang meliputi pembaruan sistem pencahayaan, perbaikan akustik, serta peningkatan fasilitas demi kenyamanan jemaah.
Renovasi tersebut diresmikan pada 2021 oleh Presiden Joko Widodo.
Dengan luas mencapai 9,5 hektare, Masjid Istiqlal mampu menampung lebih dari 200 ribu jemaah.
Angka yang terasa sulit dibayangkan jika hanya melihatnya dari layar kaca.
Hal menarik lainnya, masjid ini berdiri tepat berhadapan dengan Gereja Katedral Jakarta, hanya dipisahkan oleh sebuah jalan.
Pemandangan dua rumah ibadah besar yang berdampingan ini bukan sekadar estetika kota, tetapi menghadirkan pesan kebangsaan yang terasa nyata: toleransi.
Di dalam masjid, aktivitas berlangsung tanpa hiruk.
Ada yang melaksanakan salat sunah, duduk bersandar di pilar sambil membaca Al-Qur’an, hingga sekadar memejamkan mata.
Tidak semua datang untuk ritual yang sama, tetapi suasananya seragam, tenang.
Saya sempat berbincang dengan seorang pengunjung asal Bandung, Ridwan (34), yang datang bersama keluarganya.
Ia mengaku baru pertama kali masuk ke dalam Masjid Istiqlal meski kerap berkunjung ke Jakarta.
“Selama ini cuma lewat. Baru kali ini masuk. Rasanya beda ya, Mas. Tenang sekali, padahal di luar macet dan panas,” katanya.
Menurut Ridwan, pengalaman berada di Masjid Istiqlal membuatnya merasa kecil, bukan dalam arti negatif, tetapi menyadarkan.
“Bangunannya besar, tapi tidak terasa menekan. Justru bikin kita sadar, di tengah kota yang sibuk, manusia tetap butuh ruang untuk diam,” ujarnya.
Keunikan lain yang terasa adalah keteraturan. Petugas masjid sigap tanpa terkesan kaku.
Alur pengunjung jelas, informasi mudah diakses, dan kebersihan terjaga.
Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang publik yang dikelola dengan disiplin.
Di beberapa sudut, pengunjung tampak mengabadikan momen. Ada yang berfoto dengan latar kubah besar, ada pula yang merekam video singkat.
Namun aktivitas tersebut tidak mengganggu suasana. Semua seolah memahami batas bahwa ini adalah ruang bersama, bukan sekadar destinasi wisata.
Menjelang keluar, saya kembali menoleh ke arah dalam masjid. Riuh Jakarta perlahan kembali terdengar, klakson, deru kendaraan, dan langkah cepat pejalan kaki. Kontras itu terasa begitu jelas.
Namun, di balik kesan tenang dan tertata di dalam kawasan Masjid Istiqlal, terdapat satu hal yang cukup mengganggu pandangan, terutama saat berada di area luar masjid.
Sekitar 20 meter dari halaman masjid, mengalir sebuah sungai dengan kondisi yang jauh dari kata bersih.
Saat air surut, dasar sungai tampak dipenuhi sampah plastik, sisa makanan, serta lumpur gelap. Aroma tak sedap pun tercium, terbawa angin ke arah halaman masjid.
Pemandangan tersebut kontras dengan wajah Masjid Istiqlal yang megah dan terawat.
Sungai yang seharusnya menjadi elemen penunjang lanskap justru menghadirkan kesan kumuh, mengurangi keasrian kawasan yang setiap harinya dikunjungi ribuan jemaah dan wisatawan.
Masjid Istiqlal tetap menawarkan suasana ibadah yang tertib dan nyaman.
Namun, pengelolaan lingkungan di sekitarnya menjadi catatan penting agar wajah masjid terbesar di Asia Tenggara ini benar-benar mencerminkan nilai kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan sebagai ruang ibadah sekaligus ruang publik ibu kota.

