Samarinda – Berkelana ke Benua Etam Kota Samarinda rasanya kurang lengkap jika tidak mengunjungi kampung yang satu ini. Kampung yang terkenal dengan corak warna warni dan banyaknya pengrajin daun nipah yang dikreasikan menjadi pembungkus ketupat dengan memiliki nilai jual tinggi.

Kampung Ketupat Warna Warni itulah sebutannya, terletak di Jalan Mangkupalas Kelurahan Masjid Kecamatan Samarinda Seberang Kota Samarinda, Provinsi Kaltim.
Awalnya, daerah itu hanyalah kampung biasa. Seiring berjalannya waktu, kampung tersebut berubah nama menjadi Kampung Ketupat lantaran masyarakat di sana sebagian besar pembuat dan penjual ketupat.
Bahkan, sejak Januari 2019 silam, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah membangun dan meresmikan sebuah tugu ketupat berdiri dan menjadi icon kampung tersebut. Tidak hanya itu, khas warna warni juga menghiasi taman dan seluruh bagian dari setiap rumah warga sekitar.
Misalnya saja Masni (54) seorang pembuat ketupat menceritakan, kegiatan yang digelutinya sejak pertengahan tahun 2000-an itu, bermula dari ikut-ikut tetangga sekitarnya. Melihat adanya potensi nilai jual, dirinya tergiur dan turut melakukan hal sama yakni mengolah dan menjual ketupat.
“Dulu belajar membuatnya dari tetangga, akhinya saya bisa. Ini sudah hampir 20 tahun saya kerjakan,” terang Masni saat disambangi Narasi.co di rumahnya, Jalan Mangkupalas Gang Samsul RT 21 Samarinda, Minggu (3/10/2021).
Ketupat yang sudah jadi itupun akan dibawa dan langsung dipasarkan kepada pelanggan seperti warung makan Soto Makassar Sengkang dan warung makan Mantap yang terletak di Jalan Pelabuhan Samarinda.
Dijelaskannya, membuat ketupat ternyata memiliki pengetahuan tersendiri. Untuk menghasilkan makanan berbahan dasar pulut itu serta bertahan lama, maka sebaiknya menggunakan daun nipah.
“Kalau menggunakan daun kelapa, paling tiga hari rusak, tapi kalau daun nipah bisa tahan hingga satu bulan lamanaya,” jelas Masni.
Perantau asal Sulawesi Selatan itu pun menuturkan, jika untuk mendapat daun nipah mutu baik, dirinya memesan dengan langganannya yang ada di Muara Kembang Handil seharga Rp 30 ribu per ikat. Walau sudah memesan, terkadang Masni harus menunggu beberapa waktu.
“Kalaupun sudah dipesan, kita juga harus menunggu selama beberapa hari lamanya,” jelasnya.
Biasanya, dari daun nipah seharga Rp 30 ribu yang dibeli, ia mampu membuat ketupat hingga 800 buah. Harga jual pun dipatok untuk 100 buah ketupatnya, dengan harga Rp 25 ribu.
Meskipun di masa pandemi Covid-19 yang telah terjadi 2 tahun belakangan yang menghantam perekonomian Kota Samarinda, Masni menilai kondisi itu tidak terlalu berpengaruh kepadanya.
“Tidak terlalu berpengaruh kalilah, pendapatan pun tetap sama,” ungkapnya.
Disinggung adanya bantuan dari Pemkot Samarinda, Masni mengakui pernah mendapatkannya, namun hanya sekali.
“Dulu pernah dapat bantuan dari Dinas Sosial Kota Samarinda Rp 20 juta per kelompok. Satu kelompok 10 orang, artinya per orang mendapat Rp 2 juta,” papar Masni.
Guna menopang usaha dirinya dan pembuat ketupat lainnya, ibu satu anak ini menyampaikan harapannya agar pemerintah dapat kembali memberikan dorongan agar usaha warga semakin lebih maju.
“Kita harap pemerintah dapat terus memberikan bantuan kepada kami supaya tidak pakai uang pribadi terus,” kata Masni.
Ia tetap berdoa agar usaha yang mampu menopang kebutuhan kehidupan sehari-sehari itupun, harus terus bertahan. Dalam setiap bulannya, dirinya mampu membuat ketupat minimal 5 ribu buah dan maksimal 10 ribu buah.
“Paling sedikit 5 ribu buah ketupat, dengan penghasilan Rp 2.500.000 per bulannya,” papar Masni mengakhiri.

