TANGERANG: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan Indonesia akan memainkan peran strategis dalam pengembangan pendidikan Islam dan bahasa Arab melalui penguatan kerja sama dengan Universitas Al-Azhar, Mesir.
Pernyataan itu disampaikan Menag usai kembali dari kunjungan kerja ke Mesir atas mandat Presiden Prabowo Subianto, di Tangerang, Kamis, 22 Desember 2026.
Menurut Menag, pihak Al-Azhar memberikan sinyal positif terhadap penguatan kerja sama bilateral Indonesia–Mesir, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga dalam berbagai agenda strategis sebagai sesama negara mayoritas Muslim yang mengedepankan moderasi.
“Al-Azhar sangat mendukung kerja sama antara kedua negara, bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga berbagai kepentingan bersama sebagai negara Muslim moderat,” ujar Nasaruddin.
Menag menjelaskan, Al-Azhar menyatakan kesiapan memberikan asistensi akademik kepada perguruan tinggi keagamaan di Indonesia, baik negeri maupun swasta.
Asistensi tersebut diarahkan untuk penguatan kendali mutu institusi dan peningkatan kualitas lulusan.
“Al-Azhar bersedia memberikan asistensi kepada UIN, IAIN, maupun PTKIS untuk penguatan mutu pendidikan,” kata Menag.
Selain itu, Al-Azhar juga menyatakan kesiapan mengirimkan dosen dan tenaga ahli ke Indonesia, khususnya di bidang bahasa Arab. Menurut Menag, pemerintah Mesir bahkan membuka peluang pengiriman antara 200 hingga 1.000 tenaga ahli bahasa Arab asal Mesir untuk mendukung pengembangan pembelajaran di Indonesia.
Kerja sama tersebut akan ditindaklanjuti melalui kunjungan resmi Pemerintah Mesir ke Indonesia pada April 2026. Dalam kunjungan itu, kedua negara direncanakan menandatangani nota kesepahaman (MoU) sekaligus membahas lebih lanjut program-program strategis pendidikan tinggi Islam.
Selain isu pendidikan, Menag mengungkapkan Indonesia juga mendapat apresiasi internasional dalam forum-forum di Mesir terkait peran strategisnya dalam pengembangan sains dan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), di dunia Islam.
Dalam pertemuan dengan Menteri Wakaf Mesir, Usamah Al-Sayyid Al-Azhari, Menag membahas pentingnya mengantisipasi perkembangan teknologi agar AI dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan peradaban, bukan sebaliknya.
“Kita diminta mengantisipasi perkembangan sains dan teknologi, terutama Artificial Intelligence, agar menjadi kekuatan untuk pengembangan peradaban, bukan justru melemahkan substansi peradaban itu sendiri,” ujar Menag.
Menurut Nasaruddin, dalam pertemuan tersebut Indonesia dinilai memiliki posisi strategis di masa depan.
Sejumlah ulama dunia memandang Indonesia sebagai negara yang aman dan potensial untuk pengembangan sains dan teknologi berbasis nilai keislaman.
“Indonesia disebut-sebut memiliki peran yang sangat strategis ke depan,” katanya.
Pengakuan tersebut, lanjut Menag, sekaligus menjadi tantangan bagi Indonesia untuk tampil sebagai pusat baru pengembangan peradaban Islam modern.
“Indonesia dituntut dan ditantang untuk menjadi epicentrum baru pengembangan peradaban dunia Islam modern,” tegasnya.
Dengan penguatan kerja sama pendidikan dan penguasaan teknologi, Indonesia diharapkan mampu berkontribusi lebih besar dalam membentuk arah perkembangan peradaban yang berdampak positif, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi dunia secara luas.

