Museum Mulawarman menjadi salah satu destinasi budaya terpenting di Kalimantan Timur (Kaltim), menyimpan warisan sejarah dari masa Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu-Buddha hingga Kesultanan Kutai Kartanegara yang bercorak Islam.
Berlokasi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Museum Mulawarman menjadi salah satu tempat terbaik untuk mengenal sejarah kerajaan tertua di Nusantara.
Ribuan artefak di dalamnya merekam perjalanan peradaban tertua di Nusantara.
Pada Minggu, 7 Desember, Dinas Pariwisata Kalimantan Timur bersama puluhan awak media salah satunya wartawan Narasi berkesempatan mengunjungi museum secara langsung untuk melihat koleksi sejarah yang menjadi bukti eksistensi kerajaan Kutai pada masa lampau.
Gedung yang kini menjadi Museum Mulawarman awalnya merupakan Istana Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Bangunan istana didirikan pada tahun 1936–1937 oleh Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara ke-19.
Pembangunan dirancang oleh arsitek Belanda HLJM Estourgie dan dikerjakan oleh kontraktor Hollandsche Beton Maatschappij (HBM).
Arsitekturnya bergaya Eropa klasik modern, terlihat dari dominasi pilar kokoh, bentuk fasad simetris, serta sentuhan detail pada jendela dan ornamen.
Pada masanya, istana ini menjadi salah satu bangunan termegah di Kalimantan.
Setelah berakhirnya masa Kesultanan Kutai dalam struktur pemerintahan, istana dialihfungsikan menjadi museum pada 25 November 1971 dan dinamakan Museum Kutai.
Pada 18 Februari 1976, pengelolaan museum diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nama museum kemudian diubah menjadi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur “Mulawarman”, sebagai penghormatan kepada Raja Mulawarman, raja besar Kerajaan Kutai Martapura.
Museum Mulawarman disebut menyimpan lebih dari 5.000 koleksi mencakup geologika, biologika, numismatika, etnografika, arkeologi, historika, filologika, teknologika, dan seni rupa.
Koleksi tersebut dipamerkan berdasarkan kategori dan periode, memberikan gambaran mengenai perkembangan peradaban Kutai dari masa ke masa.
Koleksi Lantai 1
Memasuki pintu utama, pengunjung langsung menjumpai koleksi peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara, seperti singgasana raja, kursi para menteri, mahkota, perhiasan kerajaan, hingga patung Lembuswana makhluk mitologis simbol kekuasaan Kutai.

Replika Prasasti Yupa menjadi koleksi utama di lantai ini. Prasasti dari abad ke-4 M tersebut ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, berisi penyebutan nama Raja Mulawarman serta upacara pembagian kepingan emas kepada rakyat dan persembahan kepada para dewa.
Prasasti asli disimpan di Museum Nasional.
Selain itu, ruang yang sama juga menampilkan artefak yang dikaitkan dengan cerita rakyat, seperti batu menangis, serta koleksi senjata seperti meriam dan pedang peninggalan kerajaan.
Koleksi Lantai 2
Di lantai dua, museum menampilkan kekayaan budaya dari berbagai suku di Kalimantan Timur.
Tenun ulap doyo dari Suku Dayak Benuaq, ukiran kayu Dayak Kenyah, sarung Samarinda, dan alat musik tradisional seperti sape Dayak dan gambus Kutai dipamerkan dengan informasi mengenai filosofi motif dan teknik pembuatannya.
Pada ruang prasejarah, pengunjung dapat melihat artefak manusia purba dari goa karst di Kutai Timur.
Sementara ruang kolonial memamerkan koleksi senjata dari masa penjajahan seperti meriam kecil, pedang infanteri, pistol, koin, hingga tanda pangkat.
Koleksi Ruang Bawah Tanah
Bagian ruang bawah tanah menyimpan koleksi keramik dari Dinasti Ming, Qing, Yuan, serta keramik dari Eropa.
Keramik-keramik ini ditemukan di wilayah Kutai Lama dan Tenggarong, menunjukkan hubungan dagang antara Kutai dan Tiongkok sejak abad ke-13.
Di ruangan lain, museum menampilkan diorama flora dan fauna endemik Kalimantan Timur, termasuk burung enggang, orangutan, serta beragam tumbuhan hutan tropis.
Diorama mengenai kisah Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti, pendiri Kerajaan Kutai, menjadi salah satu titik edukasi sejarah bagi pengunjung.
Menariknya, museum juga menyimpan gamelan dan topeng Cirebon yang menunjukkan hubungan budaya antara Kutai dan daerah lain di Nusantara.
Koleksi Bagian Luar Museum
Di bagian luar museum terdapat replika Gua Kombeng, lokasi penemuan Prasasti Yupa.
Tidak jauh dari museum, pengunjung dapat menjumpai kompleks makam raja-raja Kutai Kartanegara, termasuk makam Sultan Aji Muhammad Parikesit.
Museum Mulawarman berdiri di tepian Sungai Mahakam, dikelilingi taman hijau dan pemandangan sungai yang tenang.
Letaknya strategis, hanya berjarak sekitar 30–33 kilometer dari Kota Samarinda.
Kunjungan media juga diikuti oleh Aminah, wartawan Natmed.id, yang baru pertama kali datang ke Museum Mulawarman.
Ia menilai penyajian koleksi di museum ini mampu memberikan gambaran sejarah Kutai secara utuh.
“Saya baru pertama kali berkunjung, dan cukup terkesan dengan penyajian koleksinya. Museum ini terasa hidup karena pengunjung bisa melihat jejak sejarah dari berbagai periode, dari prasejarah sampai kerajaan. Replika Yupa dan singgasana sultan buat saya sangat menarik,” ujar Aminah.
Menurutnya, Museum Mulawarman dapat menjadi rujukan edukasi sejarah yang lebih luas bagi pelajar dan komunitas lokal.
“Menurut saya, museum ini sangat relevan untuk pelajar karena memberikan gambaran nyata tentang bagaimana sejarah Kutai berkembang. Koleksinya lengkap dan informatif,” tambahnya.
Berdasarkan informasi dari Pemkab Kutai Kartanegara, harga tiket masuk Museum Mulawarman saat ini Dewasa: (Rp 10.000) dan Anak-anak (Rp 5.000).
Bagi pengunjung yang ingin datang, museum ini buka setiap hari dari pukul 09.00 WITA hingga 16.00 WITA.
Museum berlokasi di Jalan Diponegoro No. 1, Tenggarong. Dari Kota Samarinda, waktu tempuh menuju museum sekitar 45 menit hingga 1 jam melalui jalur darat.
Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati wisata susur Sungai Mahakam dengan pemberhentian di Dermaga Tenggarong.
Museum Mulawarman juga secara rutin menyelenggarakan kegiatan edukasi, seperti pameran temporer, pertunjukan seni, dan lokakarya kebudayaan.
Jika kamu punya rencana liburan ke Kutai Kartanegara, sempatkan untuk singgah di Museum Mulawarman.
Luangkan satu atau dua jam untuk berkeliling, membaca kisah di balik artefaknya, dan merasakan atmosfer istana yang pernah menjadi pusat kekuatan kerajaan besar di Kalimantan Timur.

