SAMARINDA: Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim), DR. dr. Jaya Mualimin, secara tegas mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam upaya menurunkan tingkat stunting di Benua Etam.
Pada tahun 2022, Kaltim mengalami peningkatan prevalensi stunting sebesar 1,1 persen, mencapai 23,9 persen dari 22,8 persen pada tahun 2021.
Lima daerah, termasuk Kutai Barat, Samarinda, Balikpapan, Paser, dan Kutai Kartanegara, berkontribusi pada peningkatan ini.
Menyikapi peningkatan yang signifikan ini, Jaya Mualimin menggarisbawahi perlunya kerjasama yang kuat antar perangkat daerah untuk mencapai target penurunan prevalensi balita stunting sebesar 12 persen pada Oktober 2024. Target ini sejalan dengan target nasional sebesar 14 persen.
“Namun, upaya percepatan penurunan stunting di Kaltim menghadapi sejumlah kendala,” katanya.
“Salah satunya adalah belum optimalnya kinerja tim percepatan penurunan stunting,” ungkapnya.
Itu diucapkan usai acara Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Orientasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Pemprov Kaltim, Hotel Mercure Samarinda, Jum’at (29/9/2023).
“Selain itu, beberapa indikator intervensi spesifik, seperti remaja putri yang mengonsumsi tablet tambah darah, bayi yang mendapat ASI eksklusif, dan anak yang mendapat MP-ASI, masih memiliki capaian yang rendah,” tambahnya.
Kendala lainnya meliputi kurangnya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, rendahnya partisipasi posyandu aktif, serta dukungan lintas sektor dan lintas program yang belum maksimal.
“Kurangnya sumber daya manusia (SDM) di fasilitas kesehatan juga menjadi hambatan, dengan banyak tenaga kesehatan yang harus menjalankan tugas rangkap. Ini juga kendala,” ujarnya.
Jaya Mualimin menjelaskan bahwa berbagai upaya telah disiapkan untuk tahun 2023, termasuk gerakan aksi gizi bersama, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita melalui Gerakan Ibu, Bayi, dan Balita (GEMPITA) di posyandu, serta workshop aksi bergizi dalam rangka Hari Gizi Nasional.
“Selain itu, edukasi kepada kader posyandu dan peningkatan kapasitas ibu hamil dan ibu balita di kelas-kelas khusus juga menjadi fokus dalam upaya menurunkan stunting di Kaltim,” terangnya.
Dengan komitmen kuat dan berbagai langkah yang telah diambil, Kaltim berharap dapat mengatasi tantangan ini dan meraih penurunan yang signifikan dalam tingkat stunting pada balita.
“Target kami bukan hanya 14 persen pada 2024, namun 12 persen pada Oktober 2024 mendatang,” tegasnya. (*)

