Tidak semua keberhasilan diukur dari keuntungan. Sebagian justru terlihat dari cara sebuah perusahaan bertahan tanpa kehilangan arah.
Bagi Media Sukri Indonesia (MSI Group) tahun 2025 adalah tentang belajar bersyukur, menjaga energi positif, dan meneguhkan keyakinan bahwa media masih bisa tumbuh dengan cara yang manusiawi.
Di tengah riuh perubahan industri media nasional mulai dari efisiensi anggaran hingga tekanan bisnis yang kian terasa dan MSI Group menutup tahun 2025 dengan refleksi yang tenang.
Bukan dengan euforia berlebihan, melainkan dengan kesadaran bahwa keberlanjutan perusahaan bertumpu pada satu hal paling mendasar, manusia di dalamnya.
CEO MSI Group Mohammad Sukri memaknai keberhasilan bukan semata dari grafik keuntungan.
Baginya, keberhasilan hadir ketika perusahaan mampu bertahan, menjaga stabilitas internal, dan menepati janji kepada wartawan serta staf yang selama ini menjadi tulang punggung redaksi.
“Kalau kita bicara berhasil, ya relatif. Tapi kami bersyukur. Sepanjang 2025 tidak ada keterlambatan gaji,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di dunia media, kelancaran gaji adalah kemewahan yang tidak semua orang rasakan.
Bagi Sukri, memperhatikan hal kecil adalah fondasi besar. Ia masih mengingat bagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, keterlambatan gaji kerap menjadi cerita umum, termasuk yang pernah dialami MSI Group.
Namun 2025 menjadi penanda perubahan. Gaji dibayarkan di awal bulan, bahkan pada akhir Desember sengaja dimajukan.
“Kemarin kita gajian tanggal 30. Saya bilang ke keuangan, jangan sampai teman-teman mau tahun baruan tapi kepikiran uang,” katanya sambil tersenyum di ruang obrolan Kantor Biro Infosatu.co di Jakarta Timur, Kamis, 1 Januari 2025.
Di situlah nilai kepemimpinan Sukri terasa. Bukan soal nominal, melainkan empati.
Baginya, perusahaan bukan sekadar mesin produksi berita, tetapi ruang hidup orang-orang yang di dalamnya punya keluarga, pasangan, dan kebutuhan sederhana.
Sukri percaya bahwa cara berpikir untuk menentukan arah perjalanan adalah dengan cara energi positif, yang tidak terlihat kasatmata, tetapi sangat berpengaruh.
“Kalau kita keluarkan energi negatif, tantangannya juga akan banyak. Tapi kalau energi positif yang kita keluarkan, pikiran jadi jernih,” tuturnya.
Prinsip ini menjadi semacam kompas moral MSI Group. Dalam menghadapi tantangan bisnis, Sukri selalu mengingatkan agar tim tidak terjebak pada prasangka, kecurigaan, dan saling menjatuhkan.
Ia ingin redaksi menjadi ruang aman untuk tumbuh, bukan arena saling menghakimi.
Di MSI Group, selalu ditanamkan kebersamaan dan kekeluargaan dan ini bukan hanya sekedar slogan. Tidak ada jarak kaku antara pimpinan dan wartawan. Tidak ada pembeda “big boss” dan “anak buah”.
“Kita makan sama-sama, ngopi sama-sama. Tidak ada beda,” katanya.
Di banyak perusahaan, loyalitas sering dituntut. Di MSI Group, loyalitas justru dibangun. Salah satunya melalui kepercayaan dan kesempatan.
Dalam setahun, wartawan MSI Group bisa merasakan pengalaman liputan lintas daerah bahkan lintas negara yaitu Malaysia, Bali, ekspedisi Jawa ke Surabaya, Malang dan Yogyakarta.
Pengalaman bagi sebagian orang hanya bisa dinikmati setahun sekali, bahkan belum tentu.
“Kalau bicara normal, setahun sekali dapat reward. Tapi kita tidak menghitung hidup seperti itu,” kata Sukri.
Baginya, perjalanan bukan sekadar hadiah, melainkan ruang belajar. Wartawan pulang dengan keberanian baru, jejaring baru, dan cara pandang yang lebih luas.
“Yang diuntungkan siapa? Perusahaan,” ujarnya lugas.
MSI Group tidak menilai wartawan hanya dari jumlah berita. Sukri menyebut ada banyak aspek yang sering tak disadari oleh wartawan itu sendiri, misal etika, loyalitas, kecepatan, cara memanfaatkan waktu, hingga sikap di luar jam kerja.
Ada wartawan yang memanfaatkan hari libur untuk menulis, belajar, dan berkegiatan positif. Bagi Sukri, itu nilai plus yang tidak bisa dibeli aplikasi apa pun.
“Kita punya sistem penilaian sendiri. Aplikasi kita tidak bisa dijual,” katanya.
Penilaian dilakukan secara adil, tanpa kompromi, tetapi juga tanpa drama.
Salah satu filosofi paling menarik dari MSI Group adalah sikapnya terhadap SDM. Sukri tidak pernah ingin “memiliki” wartawan seumur hidup.
“Tujuan kami bukan membuat orang tergantung pada MSI Group,” katanya.
Justru sebaliknya, MSI Group ingin menciptakan SDM pers yang kuat untuk Kalimantan Timur.
Banyak wartawan MSI Group yang kemudian melangkah keluar, membawa bekal pengalaman dan etika kerja yang telah ditempa. Bagi Sukri, itu bukan kegagalan. Itu keberhasilan.
“Yang bertahan biarlah karena mereka merasa di sini tempatnya,” ujarnya.
Tahun 2026 menjadi momentum penting dalam peningkatan kompetensi. MSI Group menargetkan percepatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dari muda, madya hingga utama.
Editor disiapkan, jenjang karier dibuka, dan regenerasi redaksi dirancang dengan serius. Tidak ada kejutan. Semua melalui proses.
“Siapa lagi nanti yang menggantikan pemimpin redaksi?” kata Sukri.
Ia menyebut nama-nama wartawan muda yang diproyeksikan naik jenjang, sembari mengingatkan bahwa keterlambatan bukan alasan untuk menyerah.
“Harus lebih usaha. Kita diasah supaya kuat,” ujarnya.
Bagi Sukri, ide adalah bahan bakar utama perusahaan. Tanpa ide, media akan berhenti bergerak.
Karena itu, MSI Group rutin menggelar lomba karya tulis dan lomba video kreatif. Tahun 2025, dua kali lomba karya tulis digelar, termasuk dalam forum Ngopi Inspirasi bersama Nidya Listiyono. Lomba video kreatif pun menjadi ruang eksplorasi baru.
“Saya lebih baik keluar uang untuk ide,” tegasnya.
Hadiah mungkin tidak selalu besar, tetapi ruang untuk berkembang terbuka lebar. Program ini dipastikan berlanjut di 2026.
Sebagai Ketua JMSI Kalimantan Timur, Sukri merasa harus memberi contoh.
Dari empat media di bawah MSI Group yaitu infosatu.co, insitekaltim.com, narasi.co, dan netmed.id dua telah terverifikasi Dewan Pers. Dua lainnya ditargetkan rampung tahun ini.
“Kalau saya tidak patuh aturan, bagaimana anggota mau ikut?” katanya.
Bagi Sukri, verifikasi bukan sekadar administrasi. Ia adalah ketenangan, kepastian, dan komitmen pada etika pers.
Perjalanan Sukri sendiri bukan kisah instan. Pria berdarah Madura-Bugis ini mengawali karier sebagai penulis lepas, mengirim artikel ke tabloid Jakarta sambil bekerja serabutan.
Ia pernah menjadi wartawan kriminal hampir 20 tahun, bahkan sempat menyandang status wasit nasional PSSI.
Namun kecintaannya pada dunia jurnalistik membuatnya memilih satu jalan.
Ketika liputan kriminal dari Kalimantan Timur kerap tak tayang di televisi nasional, ia pindah ke Radio. Hingga akhirnya, pada 2018, ia mendirikan infosatu.co.
Dari situlah MSI Group tumbuh melewati fase sewa kantor berpindah-pindah, dari lantai 1, ke lantai 3, hingga membangun manajemen profesional.
Kini, MSI Group memiliki sekitar 25 karyawan, merambah ke UMKM melalui Toko MSI di Jalan MT Haryono dan terus bertahan di tengah arus perubahan media.
Tahun 2026 tidak dijanjikan akan lebih mudah. Anggaran diperkirakan tetap ketat. Namun MSI Group memilih realistis tanpa kehilangan harapan.
Program umrah untuk karyawan berprestasi, pelatihan SDM intensif, serta satu perjalanan wisata ke Labuan Bajo tetap disiapkan dengan kriteria ketat dan adil.
“Target kami bukan viral. Target kami adalah berita sampai ke masyarakat,” kata Sukri.
MSI Group ingin menjadi media yang positif, berimbang dan bermanfaat, menyampaikan pembangunan, mengurangi kesenjangan informasi, dan menjadi corong yang bertanggung jawab bagi publik Kalimantan Timur.
Di akhir refleksinya, Sukri kembali pada satu keyakinan yang terus ia pegang selama syukur dirawat, energi positif dijaga, dan manusia diperlakukan setara, media akan selalu menemukan jalannya untuk bertahan dan tumbuh.
Harapan menyongsong masa depan MSI Group datang dari mereka yang berproses di dalamnya.
Seperti Andika, wartawan Insitekaltim yang bergabung pada 2025, mengaku menemukan ruang belajar yang tidak hanya menuntut produktivitas, tetapi juga memberi kepercayaan.
“Sebagai wartawan baru, saya tidak hanya dituntut untuk cepat menulis, tapi juga diarahkan bagaimana bekerja dengan etika dan tanggung jawab. Di sini kami dibimbing, bukan langsung dihakimi,” ujarnya.
Sementara itu, Emmy, wartawan madya Infosatu sekaligus editor Insitekaltim yang sudah enam tahun bergabung di MSI Group, berharap perusahaan terus menjaga idealisme jurnalistik di tengah persaingan media yang semakin ketat.
“Pembinaan dan pengembangan wartawan itu penting, terutama menghadapi tantangan media digital. Dengan penguatan SDM, MSI Group bisa bersaing melalui kualitas dan kredibilitas, tanpa meninggalkan kode etik jurnalistik,” katanya.
Emmy juga berharap MSI Group semakin solid, dipercaya publik, dan terus tumbuh sebagai media yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

