Laporan Wartawan Narasi.co, Adi Rizki
Monumen Nasional atau Monas bukan sekadar tugu tinggi di tengah hamparan lapangan luas.
Ia adalah simbol kemenangan bangsa Indonesia melawan penjajahan, penanda sejarah yang berdiri kokoh di jantung ibu kota.
Bagi saya, kunjungan ke Monas menjadi pengalaman pertama setelah sebelumnya mengunjungi Masjid Istiqlal.
Kesan yang muncul bukan hanya tentang tingginya monumen yang menjulang, tetapi juga rasa ingin tahu tentang makna besar yang berdiri di baliknya.
Monas didirikan atas gagasan Presiden Soekarno.
Pembangunannya dimulai pada Agustus 1959 di atas lahan seluas 80 hektare.
Tugu setinggi 132 meter itu dirancang oleh arsitek Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono.
Sebanyak 16 tahun dihabiskan untuk menyelesaikan monumen bersejarah ini sebelum akhirnya diresmikan dan dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975.
Di puncaknya, terdapat lidah api berlapis emas yang menjadi mahkota Monas.
Api tersebut melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang menyala-nyala dan tak pernah padam.
Bung Karno menginginkan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di Paris, sebuah penanda kebanggaan bangsa yang berdiri megah di tengah ibu kota.
Monas pun menjadi salah satu proyek monumental Soekarno, selain Gelora Bung Karno dan berbagai bangunan ikonik lainnya.
Meski sempat menuai kritik dan dianggap sebagai pemborosan di tengah kondisi ekonomi Indonesia pascakemerdekaan, pembangunan Monas tetap berjalan hingga akhirnya tuntas.
Desain Monas sendiri diperoleh melalui sayembara yang dimulai pada 17 Februari 1955 dan diikuti 51 peserta.
Rancangan Frederich Silaban sempat terpilih, namun belum langsung direalisasikan karena sejumlah kendala.
Sayembara ulang digelar pada 10 Mei 1960.
Dewan juri menghendaki desain yang benar-benar mencerminkan kepribadian Indonesia.
Akhirnya, rancangan Frederich Silaban bersama Soedarsono kembali dipilih dan diwujudkan.
Lidah api di puncak Monas bukan sekadar ornamen. Api berwarna keemasan itu dilapisi emas seberat 50 kilogram.
Awalnya, emas yang digunakan sebanyak 32 kilogram, kemudian pada 1995 ditambah menjadi 50 kilogram.
Emas tersebut merupakan sumbangan masyarakat Indonesia, termasuk saudagar asal Aceh, Teuku Markam, yang menyumbang 28 kilogram emas dari tambang di Lebong Tandai, Bengkulu Utara.
Sebelum dikenal sebagai Monas, kawasan ini pernah bernama Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, hingga Lapangan Monas dan Taman Monas.
Perubahan nama tersebut mencerminkan dinamika sejarah kawasan ini sejak masa kolonial hingga Indonesia merdeka.
Secara filosofis, Monas melambangkan lingga dan yoni, konsep simbol kesuburan dan keseimbangan dalam budaya Nusantara.
Lingga melambangkan kekuatan dan maskulinitas, sedangkan yoni melambangkan feminitas. Gagasan ini berasal dari Soekarno.
Bentuk Monas juga kerap dianalogikan dengan alu dan lesung, alat tradisional penumbuk padi yang lekat dengan kehidupan rakyat Indonesia.
Ukuran Monas pun sarat makna. Tinggi pelataran cawan dari dasar mencapai 17 meter, melambangkan tanggal 17.
Tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 meter, terdiri dari 3 meter di bawah tanah dan 5 meter tangga menuju cawan, melambangkan bulan ke-8.
Sementara itu, luas pelataran berbentuk bujur sangkar berukuran 45 x 45 meter, melambangkan tahun 1945.
Seluruh ukuran tersebut merepresentasikan tanggal kemerdekaan Indonesia: 17 Agustus 1945.
Saat memasuki kawasan inti Monas, terlihat taman yang tertata rapi dan jalur pejalan kaki yang nyaman.
Di bagian bawah monumen, museum diorama sejarah menjadi ruang edukasi yang ramai dikunjungi pelajar dan wisatawan.
Saya sempat berbincang dengan rombongan pengunjung asal Garut yang datang bersama keluarga.
Rudi (50) mengaku sengaja mengajak anak-anaknya ke Monas agar mereka dapat melihat langsung simbol sejarah yang selama ini hanya dipelajari di buku.
“Kita sering dengar soal Monas, tapi beda rasanya kalau lihat langsung. Ternyata sebesar ini,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurutnya, Monas bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga ruang belajar sejarah yang lebih nyata.
“Kalau cuma baca di buku, kadang terasa jauh. Tapi kalau berdiri di sini, lihat diorama perjuangan, rasanya lebih nyata. Jadi tahu kalau kemerdekaan itu bukan sesuatu yang datang begitu saja,” katanya.
Ia juga terkesan dengan luasnya kawasan Monas dan kebersihan taman di sekitarnya.
“Tempatnya luas, bersih, cocok untuk keluarga. Sekalian wisata, sekalian belajar,” tambahnya.
Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, Monas tetap berdiri tegak, bukan hanya sebagai tugu, melainkan sebagai pengingat perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

