SAMARINDA: Proyek Strategis pembangunan rumah produksi bersama (RPB) pabrik pakan ternak di Desa Loleng, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) kini memasuki tahap akhir dan dipastikan segera beroperasi.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah (DPPKUKM) Kaltim, Heni Purwaningsih mengungkapkan bahwa pembangunan fisik pabrik hampir rampung dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2025.
“Bangunannya sudah hampir selesai, tinggal pemasangan mesin. Tahun depan sudah mulai beroperasi.” jelas Heni.
Pabrik ini merupakan bagian dari Program Jospol Pemprov Kaltim dirancang untuk mengolah berbagai komoditas yang selama ini dijual mentah oleh petani atau bahkan terbuang sebagai limbah.
Bahan baku tersebut antara lain jagung hasil panen petani lokal, inti sawit dari perkebunan sekitar, limbah ikan dari kawasan Kota Bangun, serta potensi bahan lokal lain yang bisa diberi nilai tambah.
“Kami ingin bahan-bahan yang biasanya dibuang itu bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Ini bentuk hilirisasi nyata untuk meningkatkan nilai jual hasil petani,” kata Heni.
Heni menjelaskan bahwa penetapan Desa Loleng sebagai lokasi RPB dilakukan berdasarkan kajian bersama Universitas Mulawarman terhadap 10 kabupaten/kota di Kaltim.
Hasilnya, koperasi di Desa Loleng menjadi satu-satunya yang memiliki lahan dan bersedia menghibahkan tanah seluas 1 hektare kepada Pemprov untuk pembangunan pabrik.
Selain itu, posisi Loleng sangat strategis karena berasa dekat dengan Kota Bangun yang merupakan sentra produksi ikan, dikelilingi petani jagung dan sawit dan memiliki koperasi yang siap mengelola pabrik dengan standar industri modern.
“Koperasi petani jagung di sana sangat siap. Kami ingin menunjukkan bahwa koperasi bisa menjadi agen transformasi ekonomi desa,” ujarnya.
Salah satu tujuan utama pabrik ini adalah mengakhiri ketergantungan petani pada rantai tengkulak yang selama ini menekan harga jual jagung.
“Selama ini petani menjual jagung mentah dengan harga rendah. Kalau koperasi menjadi pemasok pabrik, mereka bisa mendapat nilai tambah yang lebih tinggi,” tegas Heni.
Pabrik pakan ternak ini ditargetkan mampu memproduksi 5 ton pakan organik per hari.
Namun berdasarkan pendataan awal, kapasitas tersebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan peternak ayam petelur di 10 kabupaten/kota.
“Peternak saat ini kewalahan karena pasokan pakan masih bergantung dari luar daerah. Kami harap pabrik ini bisa jadi solusi dan nanti kapasitasnya dapat ditingkatkan,” jelas Heni.
Pabrik ini tidak memproduksi pakan ayam biasa, tetapi pakan berbahan organik yang dirumuskan khusus untuk menghasilkan telur probiotik, sesuai studi dan formula teknis yang telah disiapkan.
Pendamping RPB nantinya akan ditugaskan untuk menghubungkan jalur distribusi antara pabrik dan peternak ayam petelur di seluruh Kaltim.
Ketersediaan pakan lokal diharapkan dapat membantu menekan inflasi daerah, mengingat harga telur ayam merupakan salah satu kontributor inflasi paling signifikan di Kaltim.
“Harga telur naik salah satunya karena pakan mahal dan langka. Jika pasokan pakan lokal stabil, harga telur bisa lebih terkontrol,” ungkap Heni.
Jika pabrik di Loleng berjalan optimal, RPB ini direncanakan menjadi pilot project untuk model hilirisasi pakan organik di Kaltim.
“Kami harap daerah lain bisa mereplikasi. Ini bukan hanya pabrik pakan, tapi strategi besar untuk menggerakkan ekonomi desa melalui koperasi,” tutup Heni.

