SAMARINDA: Kondisi lorong di Pasar Segiri Samarinda kembali disorot karena dipenuhi parkiran sepeda motor, yang membuat akses di dalam pasar menjadi sempit dan tidak tertib.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda Hotmarulitua Manalu mengatakan persoalan tersebut bukan semata karena tingginya aktivitas pasar, melainkan dipengaruhi perilaku pengunjung dan pedagang yang memilih parkir di lokasi terdekat.
“Bukan karena orangnya membludak, tapi akses jalannya sempit dan masyarakat cenderung parkir di titik terdekat,” ujarnya diwawancarai Jumat, 27 Maret 2026.
Ia menjelaskan, meski kantong parkir telah tersedia di bagian belakang pasar, banyak pengguna kendaraan enggan berjalan kaki sehingga memilih memarkir kendaraan di dalam lorong.
Akibatnya, ruang gerak di dalam pasar menjadi terbatas dan mengganggu aktivitas jual beli.
Dishub sebelumnya telah melakukan penertiban dengan membersihkan parkir liar di lorong.
Namun kondisi tersebut kembali terulang dalam waktu singkat.
“Kemarin sudah kita bersihkan, tapi kembali lagi. Ini memang soal budaya yang belum terbentuk,” katanya.
Selain itu, banyaknya akses keluar-masuk di Pasar Segiri juga menjadi kendala dalam pengawasan.
Meski portal telah dipasang di beberapa titik, fungsinya belum maksimal karena masih banyak jalur yang bisa dilalui kendaraan.
“Selama belum ada zonasi yang jelas antara pintu masuk dan keluar, pengelolaan parkir tidak akan maksimal,” jelasnya.
Ia juga menyoroti keberadaan juru parkir tidak resmi di dalam lorong yang turut memfasilitasi kendaraan untuk parkir di area terlarang.
Menurutnya, penataan kawasan pasar tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat dan pedagang untuk tertib.
“Bagaimana kota ini tertib, bukan hanya tugas pemerintah. Semua harus ikut berperan,” tegasnya.
Mengatasi masalah itu, Dishub sedang membahas pengelolaan parkir Pasar Segiri yang akan dialihkan kepada pihak ketiga agar lebih tertata dan tertib.

