SAMARINDA: Perayaan Paskah di Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi Samarinda tidak sekadar menjadi ritual tahunan, tetapi momentum bagi umat untuk menghayati nilai cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Pastor Paroki Katedral Samarinda, RD Moses Komela Avan, menegaskan bahwa rangkaian Paskah yang dimulai dari Kamis Putih, Jumat Agung hingga malam Paskah merupakan satu kesatuan yang sarat makna tentang kasih, pengorbanan, dan harapan.
“Perayaan ini adalah satu kesatuan. Dimulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, dan ditutup pada malam Paskah,” ujarnya saat diwawancarai media di sela ibadah di Gereja Katedral, Jumat, 3 April 2026.
Ia menjelaskan, Kamis Putih menjadi momen untuk mengenang perjamuan terakhir Yesus bersama para murid, yang mengandung pesan mendalam tentang cinta kasih dan pelayanan.
“Pesan utama Kamis Putih adalah perintah untuk saling mengasihi, yang ditunjukkan Yesus dengan membasuh kaki para murid,” jelasnya.
Sementara itu, Jumat Agung dimaknai sebagai puncak pengorbanan, di mana umat Katolik meyakini kasih Tuhan yang menyelamatkan manusia melalui peristiwa wafat Yesus Kristus.
“Cinta kasih yang paling besar adalah ketika Allah mengasihi manusia bukan karena layak, tetapi karena manusia perlu diselamatkan,” katanya.
Menurut RD Moses, puncak perayaan pada malam Paskah menjadi simbol harapan baru melalui kebangkitan Yesus Kristus.
Momen ini mengajak umat untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga memperbarui iman dan semangat hidup.
Ia berharap, perayaan Paskah mampu mendorong umat untuk tidak berhenti pada seremoni, melainkan benar-benar menghidupi nilai cinta kasih dalam relasi sosial sehari-hari.
“Harapannya umat semakin mampu mengerti, mengimani, dan menghayati pesan cinta kasih yang melayani dan berkorban, sehingga hidup kita menjadi lebih bermakna,” pungkasnya.

