BOGOR: Memasuki musim liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), pemerintah melalui Ditjen Perhubungan Udara (Hubud) Kementerian Perhubungan memastikan akan terjadi penurunan harga tiket pesawat sekitar 12-13 persen.
Penurunan ini dipicu oleh pengurangan beberapa komponen biaya, seperti harga avtur dari Pertamina hingga cover charge di bandara.
Di sisi lain, Sekretaris Ditjen Hubud Achmad Setyo Prabowo menjelaskan bahwa jumlah armada pesawat yang beroperasi diprediksi berkurang, sehingga daya angkut penumpang pada puncak pergerakan kemungkinan tidak optimal.
Saat ini terdapat 568 unit armada penerbangan komersial berkapasitas di atas 30 kursi, terdiri dari maskapai Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, Wings Air, AirJet, INR, Citilink, Pelita, hingga TransNusa.
Namun, sekitar 200 pesawat berada dalam tahap maintenance sehingga hanya 368 pesawat yang siap melayani penumpang selama libur Nataru.
Lonjakan penumpang diprediksi terjadi di 257 bandara pada H-7.
Pada 2024, jumlah penumpang domestik tercatat mencapai 3,7 juta dan internasional 1 juta orang.
Tahun 2025, angka ini diperkirakan meningkat menjadi 3,8 juta penumpang domestik.
Setyo Prabowo menyebut peningkatan jumlah penumpang memang tidak terlalu signifikan, tetapi jika dibandingkan dengan jumlah pesawat yang beroperasi, potensi keterlambatan penerbangan tetap besar.
Meski demikian, pemerintah optimistis kesenjangan ini dapat diatasi melalui koordinasi dengan pihak terkait, termasuk pengelola bandara untuk penambahan jam operasional.
Dengan begitu, kedatangan dan keberangkatan pesawat bisa terakomodasi lebih baik dan disesuaikan dengan tingginya permintaan masyarakat.
Penurunan jumlah pesawat diakui masih merupakan dampak pandemi Covid-19. Sejak 2019, jumlah armada belum kembali normal.
Dari total 568 pesawat yang tersedia saat ini, hanya 368 yang dapat beroperasi selama Nataru.
“Kita bicara ini belum menyentuh persoalan cuaca, yang pada musim Nataru biasanya cukup ekstrem,” ujar Setyo Prabowo dalam acara Bincang-bincang Nataru 2025–2026 bersama Forum Wartawan Perhubungan, Kamis, 11 Desember 2025 malam di Ciawi.
Ia menegaskan, jika cuaca ekstrem terjadi, pesawat tidak akan diizinkan terbang karena berpotensi mengganggu jadwal kedatangan dan keberangkatan di berbagai bandara.
“Kondisi cuaca tidak mungkin direkayasa, dan dampaknya pasti terasa pada pergerakan penumpang serta operasional bandara. Begitu juga perawatan pesawat, ketika waktunya tiba tidak bisa ditunda karena menyangkut kenyamanan dan keselamatan penumpang,” tegasnya.

