BONTANG: Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang meningkatkan langkah pencegahan terhadap penyakit menular menyusul munculnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan suspek campak di sejumlah wilayah.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan pemerintah daerah telah membahas penanganan kedua penyakit tersebut dan menyiapkan langkah antisipasi, terutama di wilayah yang dinilai rawan.
“Masalah demam berdarah sudah kita bahas dalam rapat. Penanganannya harus kita fokuskan di titik-titik yang rawan,” ujar Neni, Minggu, 15 Maret 2026.
Untuk mencegah penyebaran DBD, pemerintah akan melakukan fogging atau pengasapan di kawasan yang teridentifikasi sebagai lokasi berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, penyebab penyakit tersebut.
Menurutnya, kegiatan fogging akan difokuskan pada rumah atau lingkungan yang memiliki potensi tinggi terjadinya penularan.
“Kalau ada titik rumah yang rawan demam berdarah, kita akan lakukan fogging fokus,” jelasnya.
Selain fogging, pemerintah juga mengajak masyarakat untuk lebih aktif menjaga kebersihan lingkungan.
Upaya pemberantasan sarang nyamuk dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan penyebaran DBD.
Pemkot Bontang juga mengimbau masyarakat menerapkan gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah yang berpotensi menampung air, serta mendaur ulang barang bekas yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Menurut Neni, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan upaya pencegahan penyakit.
“Ini harus kita lakukan bersama-sama. Tanpa keterlibatan masyarakat, upaya pemerintah tidak akan berjalan maksimal,” katanya.
Selain DBD, pemerintah daerah juga memberi perhatian pada meningkatnya kasus suspek campak pada anak di Kota Bontang.
Neni meminta langkah mitigasi dilakukan secara menyeluruh agar penularan dapat segera dikendalikan.
Menurutnya, pencegahan campak dapat dilakukan melalui vaksinasi serta peningkatan kewaspadaan orang tua dalam menjaga kesehatan anak.
“Orang tua harus terus diedukasi. Bayi jangan mudah disentuh atau dicium sembarang orang,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya pola hidup sehat serta pemantauan kesehatan anak untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Selain itu, pemerintah daerah meminta tenaga kesehatan memastikan anak yang tengah menjalani perawatan akibat campak mendapatkan asupan vitamin A dengan dosis yang sesuai untuk membantu proses pemulihan.
Kader posyandu juga diarahkan untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi serta melakukan edukasi langsung kepada masyarakat.
Pemantauan juga akan diperkuat di berbagai fasilitas pendidikan anak usia dini.
Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah daerah, pada Januari hingga Maret 2026 tercatat sekitar 120 kasus suspek campak pada anak di Kota Bontang.
Sementara itu, pada bulan sebelumnya tercatat 19 kasus DBD, dengan satu kasus meninggal dunia yang menimpa seorang anak berusia tujuh tahun di Kelurahan Gunung Elai.
Neni menegaskan pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kasus di lapangan agar langkah penanganan dapat segera dilakukan apabila terjadi peningkatan.
“Kesehatan masyarakat harus kita jaga bersama,” pungkasnya.

