SAMARINDA: Pemerintah Kota Samarinda menekankan pentingnya penegakan keadilan di seluruh sektor sebagai instrumen utama dalam mengatasi persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial di ibu kota Kalimantan Timur.
Pesan tersebut menjadi inti dari peringatan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang mengusung tema “Gǎi Jūn Wú Pín” atau “Kalau Ada Keadilan, Tiada Persoalan Kemiskinan”.
Kepala Kesbangpol Kota Samarinda, Yosua Laden, mewakili Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyatakan bahwa tema tersebut sangat relevan dengan tantangan sosial saat ini.
Menurutnya, kemiskinan yang berkelanjutan sering kali berakar dari pengabaian rasa keadilan dalam kebijakan dan relasi kemasyarakatan.
“Kunci mengatasi persoalan sosial terletak pada tegaknya keadilan dalam seluruh aspek: kebijakan pemerintah, dunia usaha, penegakan hukum, hingga relasi sehari-hari antarwarga,” ujarnya dalam sambutan, Sabtu, 21 Februari 2026.
Ia mengatakan, dalam perspektif pembangunan kota, keadilan dinilai sebagai fondasi untuk memperkecil ketimpangan.
Ketika akses terhadap kesempatan kerja dan ruang untuk berkarya diberikan secara adil, maka kemandirian ekonomi masyarakat dapat terwujud secara lebih merata.
Sebaliknya, ia memperingatkan bahwa ketidakadilan hanya akan memicu ketidakpercayaan publik dan perpecahan yang dapat menghambat progres pembangunan daerah.
“Tema Imlek tahun ini adalah ajarkan ajarkan moral bagi seluruh warga Samarinda untuk berbenah, bukan hanya umat Khonghucu. Kita harus menjadikan keadilan sebagai kompas moral,” tegasnya.
Selain isu ekonomi, momentum Imlek juga dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Samarinda sebagai kota inklusif.
Pemerintah mengklaim suasana toleransi di Samarinda tetap terjaga melalui komunikasi aktif lintas organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan serta kehadiran tokoh lintas iman dalam setiap perayaan hari besar.
Wali Kota mengajak masyarakat untuk mengimplementasikan nilai keadilan mulai dari lingkup terkecil, seperti dalam hubungan kerja dan aktivitas perdagangan, guna mendukung visi Samarinda yang lebih maju dan beradab.
“Mari kita mulai dari hal sederhana, seperti adil kepada karyawan, adil dalam menimbang dagangan, serta adil dalam menghargai perbedaan,” pungkasnya.

