SAMARINDA: Angka kematian akibat Tuberkulosis (TBC) di Kalimantan Timur (Kaltim) masih menjadi perhatian serius setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) melaporkan per Oktober 2025, hampir 300 warga meninggal akibat penyakit tersebut.
Dinkes kini memperkuat langkah konkret dalam menekan kematian dan penyebaran TBC, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan penurunan prevalensi TBC hingga 50 persen pada 2030.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa penanganan TBC telah menjadi prioritas utama mengingat tingginya angka fatalitas dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini sudah menjadi atensi dari Bapak Presiden terkait penurunan prevalensi sampai 50 persen di akhir tahun 2030. Karena ini menjadi quick win-nya Pak Presiden dan bagian dari grand strategy kita untuk penanganan tuberkulosis,” ujar Jaya di Samarinda, Kamis, 27 November 2025.
Berdasarkan data Dinkes Kaltim, hingga Oktober 2025 tercatat hampir 300 orang meninggal akibat TBC.
Sementara pada 2024, angka kematian mencapai 454 jiwa.
Jaya menilai penurunan ini belum cukup aman dan justru menjadi alarm bahwa penanganan TBC harus dilakukan lebih cepat, terarah, dan melibatkan banyak pihak.
“Tahun lalu bahkan 454 orang meninggal. Ini luar biasa, dan kalau kita tidak melakukan upaya serius, penyakit TBC bisa menjadi masalah besar di Kaltim hingga beberapa tahun ke depan,” tegasnya.
Untuk memperkuat upaya tersebut, Pemprov Kaltim telah menyiapkan berbagai regulasi, termasuk Peraturan Gubernur tentang Penanggulangan TBC dan Surat Keputusan (SK) Gubernur mengenai pembentukan Tim Percepatan Penurunan TBC.
Tim lintas sektor ini melibatkan unsur akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, media, hingga masyarakat sebagai bagian dari pendekatan pentahelix.
“Peraturan gubernurnya sudah ada, begitu juga SK tentang tim percepatan penurunan TBC. Kita melibatkan seluruh stakeholder agar program berjalan efektif,” jelasnya.
Menurut Jaya, kerja sama lintas sektor sangat penting untuk mendorong deteksi dini, memastikan pengobatan tuntas, serta meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya TBC, terutama di daerah dengan angka penularan tinggi.
Ia menambahkan, seluruh upaya ini sejalan dengan visi nasional untuk mewujudkan masyarakat sehat dan produktif menuju Indonesia Emas 2045.
“Sebelum menuju generasi emas, kita harus memastikan masyarakat sehat dulu pada 2030. Itu pondasinya,” ujar Jaya.
Dengan penguatan regulasi, edukasi, pencatatan data, dan layanan kesehatan, Jaya optimistis target penurunan prevalensi TBC sebesar 50 persen pada tahun 2030 dapat tercapai.
“Kuncinya adalah kolaborasi dan komitmen. Kalau semua pihak bergerak bersama, saya yakin target penurunan TBC bisa kita capai,” tutup Jaya Mualimin.

