SAMARINDA: Rencana pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Mulawarman (Unmul) masih menunggu proses rekomendasi kebijakan, meski kesiapan akademik dan kebutuhan daerah dinilai telah terpenuhi.
Wakil Rektor III Unmul, Prof. Mohammad Bahzar menegaskan bahwa gagasan pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan bukan proyek instan, melainkan hasil perencanaan hampir satu tahun yang dilandasi kebutuhan riil daerah.
“Kalimantan Timur ini kaya atlet. Hampir 40 persen kontingen PON itu mahasiswa Unmul. Tapi setelah lulus, mereka tidak punya wadah akademik lanjutan di bidang olahraga. Ini problem serius,” ujar Bahzar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPRD Kaltim di Gedung E DPRD Kaltim, Senin, 2 Februari 2026.
Ia menilai, tanpa institusi akademik olahraga yang kuat, pembinaan prestasi hanya berhenti pada agenda event dan kejuaraan, tanpa dukungan riset, ilmu pengetahuan, dan keberlanjutan karier atlet.
Urgensi pendirian FIK Unmul juga tercermin dari capaian Indeks Pembangunan Olahraga (Sport Development Index/SDI) Kalimantan Timur tahun 2023 yang masih berada di angka 0,343 dan tergolong rendah.
Sejumlah dimensi kunci menunjukkan kelemahan struktural, antara lain sumber daya manusia olahraga (0,059), performa olahraga (0,197), kebugaran jasmani (0,186), serta partisipasi masyarakat (0,272).
Sementara itu, dimensi lain seperti literasi fisik (0,590), ekonomi olahraga (0,558), dan kesehatan (0,545) menunjukkan potensi yang cukup baik, namun belum terintegrasi dalam sistem pembinaan akademik dan riset olahraga yang terstruktur.
“Data SDI ini menunjukkan masalahnya bukan pada bakat, tapi pada sistem. Fakultas olahraga itu kunci untuk memperbaiki ekosistem,” kata Bahzar.
Sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di Kalimantan Timur, Unmul dinilai paling rasional menjadi penggerak utama pengembangan ilmu keolahragaan.
Saat ini Unmul memiliki sekitar 130 ribu mahasiswa aktif, 14 fakultas, dan 103 program studi, dengan sistem tata kelola akademik dan administratif yang relatif mapan.
Modal akademik di bidang keolahragaan juga telah tersedia. Unmul telah memiliki tiga program studi utama, yakni S1 Pendidikan Jasmani yang berdiri sejak 2006, S1 Ilmu Keolahragaan yang mulai berjalan pada 2024, serta S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga yang dibuka pada 2025.
“Secara akademik fondasinya sudah ada. Tinggal dilembagakan dalam satu fakultas agar pengelolaannya fokus, terintegrasi, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dari sisi kelayakan, Unmul mengklaim telah memenuhi syarat utama pendirian fakultas, mulai dari ketersediaan minimal tiga program studi aktif, dosen keolahragaan berkualifikasi S2 dan S3, hingga sarana dan prasarana yang sudah dimiliki dan dikembangkan bertahap.
Terkait pendanaan, Bahzar menegaskan pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara langsung.
“Pendanaannya efisien dan berbasis tata kelola kampus. Yang kami butuhkan sekarang adalah rekomendasi kebijakan,” ujarnya.
Ia menyebut naskah akademik pendirian fakultas telah rampung sepenuhnya, lokasi perkuliahan sementara telah disiapkan, dan konsep pembangunan gedung permanen sudah masuk dalam rencana pengembangan kampus Unmul.
Meski kesiapan internal dinilai lengkap, pendirian Fakultas Ilmu Keolahragaan Unmul masih bergantung pada rekomendasi DPRD Provinsi dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, sebagaimana disyaratkan kementerian di tingkat pusat.
“Kami sudah diminta rekomendasi DPRD dan gubernur. Kalau itu lengkap, seharusnya pusat tidak punya alasan lagi menunda,” pungkas Bahzar.

