BONTANG: Pemerintah Kota Bontang meminta pengurus masjid, musala, maupun organisasi keagamaan yang ingin mengajukan dana hibah agar mengikuti mekanisme baru melalui sistem aplikasi pemerintah.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengatakan seluruh pengajuan bantuan hibah kini harus dimasukkan melalui Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) agar prosesnya lebih tertib, transparan, dan sesuai dengan ketentuan administrasi pemerintah.
“Kalau ada masjid atau musala yang ingin memohon hibah dari Pemerintah Kota Bontang, sekarang harus dimasukkan melalui administrasi di SIPD,” ujar Neni saat diwawancarai, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan mekanisme tersebut menggantikan pola lama yang sebelumnya masih menggunakan proposal manual dan pengajuan langsung kepada kepala daerah.
“Tidak seperti dulu, mengajukan proposal lalu meminta tanda tangan wali kota. Sekarang harus melalui sistem aplikasi SIPD agar semuanya tercatat secara resmi,” jelasnya.
Menurut Neni, batas waktu pengajuan hibah untuk tahun berjalan biasanya hingga akhir Maret. Jika ada masjid atau musala yang ingin mengajukan bantuan dari Pemkot Bontang, maka pengurus harus memasukkan pengajuan tersebut ke dalam sistem sebelum tenggat waktu tersebut.
“Kalau dimasukkan di SIPD paling lambat Maret 2026, insyaallah kalau kemampuan keuangan daerah memungkinkan, pemerintah akan memberikan bantuan. Itulah caranya sekarang,” katanya.
Di sisi lain, Neni menyebut Pemkot Bontang juga terus memberikan perhatian terhadap kegiatan keagamaan di masyarakat. Pada tahun ini, pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan kepada 12 masjid dan musala di Kota Bontang sebagai bagian dari dukungan terhadap penguatan aktivitas keagamaan.
Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp24 miliar untuk pemberian insentif bagi para penggiat agama di Kota Bontang. Kebijakan tersebut merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap peran tokoh agama dalam membina kehidupan spiritual masyarakat.
Pemkot Bontang juga menaikkan insentif bagi guru ngaji menjadi Rp2 juta per bulan, yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia.
Neni menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai spiritual masyarakat.
“SDM yang baik bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kecerdasan spiritual,” pungkasnya.

