SAMARINDA: Persoalan lingkungan hidup semakin hari semakin kompleks dan mendesak. Perubahan iklim,
pencemaran, deforestasi, dan krisis sampah bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Namun, di balik besarnya ancaman tersebut, sering kali masalah utama bukan hanya pada kurangnya kebijakan atau teknologi, melainkan pada lemahnya komunikasi lingkungan.
Menurutnya, komunikasi lingkungan memegang peran strategis sebagai sarana edukasi dan penggerak aksi sosial.
Komunikasi lingkungan berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan ilmiah dan pemahaman publik. Banyak isu lingkungan disampaikan dalam bahasa teknis yang sulit dipahami masyarakat awam.
“Tanpa komunikasi yang tepat, informasi tersebut kehilangan daya dorong untuk mengubah perilaku,”ungkap Mallisa Leslye Agustin kepada media ini, Jumat, 2 Januari 2026.
Di sinilah komunikasi lingkungan berperan mengemas pesan secara sederhana, relevan, dan kontekstual sehingga masyarakat menyadari bahwa isu lingkungan berkaitan langsung dengan kualitas hidup mereka.
Sebagai sarana edukasi, komunikasi lingkungan tidak cukup hanya menyampaikan data kerusakan alam. Edukasi yang efektif harus mampu membangun kesadaran kritis, bukan sekadar rasa takut atau bersalah.
Kampanye lingkungan yang menekankan sebab-akibat serta solusi konkret cenderung lebih berdampak. Ketika masyarakat memahami bahwa tindakan kecil, seperti mengurangi plastik atau menghemat energi memiliki kontribusi nyata, kesadaran ekologis dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Lebih dari itu, komunikasi lingkungan juga berperan sebagai pemicu aksi sosial. Isu lingkungan pada dasarnya adalah isu kolektif yang menuntut keterlibatan banyak pihak.
“Komunikasi yang persuasif dan partisipatif dapat mendorong masyarakat untuk bergerak bersama, baik melalui kegiatan bersih lingkungan, advokasi kebijakan, maupun perubahan gaya hidup,”ucapnya.
Selain itu, menurutnya komunikasi lingkungan yang berhasil adalah yang mampu mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata.
Di era digital, peran komunikasi lingkungan semakin luas. Media sosial memungkinkan pesan lingkungan menyebar cepat dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Namun, tantangannya adalah memastikan pesan tersebut tidak berhenti pada tren sesaat.
“Tanpa strategi komunikasi yang berkelanjutan dan beretika, kampanye lingkungan berisiko menjadi simbolik
semata,”terangnya.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, media, dan generasi muda menjadi sangat penting.
Pada akhirnya, komunikasi lingkungan bukan hanya alat penyampai pesan, tetapi juga sarana membangun kesadaran dan solidaritas sosial.
“Saya meyakini bahwa keberhasilan upaya pelestarian lingkungan sangat bergantung pada bagaimana isu tersebut dikomunikasikan,”urainya.
Dengan komunikasi lingkungan yang edukatif, inklusif, dan mendorong partisipasi, masyarakat tidak hanya menjadi penonton krisis lingkungan, tetapi juga bagian dari solusi.

