SAMARINDA: Perusahaan Umum Daerah (Perumdam) Air Minum Tirta Kencana Kota Samarinda menjelaskan sejumlah penyebab keluhan masyarakat terkait tekanan air kecil hingga kualitas air yang terkadang keruh, terutama di wilayah pelayanan tertentu.
Penjelasan tersebut disampaikan jajaran direksi dalam diskusi dan sosialisasi peningkatan kualitas serta jangkauan layanan bersama Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Samarinda di Bagios, Kamis, 12 Februari 2026.

Direktur Umum Perumdam Tirta Kencana, Nor Wahid Hasyim, mengatakan tekanan air kecil umumnya terjadi di wilayah yang masuk kategori zona 2, yakni kawasan yang berada di dataran tinggi atau berjarak jauh dari instalasi pengolahan air (IPA).
“Zona 2 itu wilayah yang lokasinya tinggi atau jauh dari instalasi. Tekanan air kita sudah habis sebelum sampai ke sana. Kalau di dekat IPA bisa sampai 7 bar, tapi di ujung jaringan tinggal 0,1 bar,” jelasnya.
Ia mengibaratkan aliran air seperti tenaga seseorang yang berlari jauh hingga kelelahan sebelum mencapai tujuan.
Karena itu, Perumdam meminta masyarakat membantu melaporkan titik lokasi yang mengalami tekanan air rendah agar dapat segera ditangani.
Menurut Nor Wahid, sistem distribusi air memiliki tantangan tersendiri karena jaringan pipa berada di bawah tanah sehingga kebocoran kecil sulit terdeteksi.
Kebocoran dapat disebabkan berbagai faktor, mulai dari sambungan pipa, tekanan akar pohon, hingga pergerakan tanah.
“Pipa kita di dalam tanah, bukan seperti kabel di atas. Kalau bocor kecil itu sulit ditemukan. Kadang karena akar pohon atau pergerakan tanah. Begitu ketemu, kita harus gali, dan kondisi tanah Samarinda itu sebagian besar rawa, gali satu meter saja sudah keluar air,” ujarnya.
Selain tekanan air, Perumdam juga menjelaskan penyebab munculnya air keruh atau berwarna hitam di sejumlah lokasi.
Kondisi tersebut terjadi saat proses pembersihan jaringan pipa yang mengalami penyempitan akibat endapan.
Nor Wahid menyebut diameter pipa distribusi di beberapa wilayah, seperti Bengkuring, menyempit akibat reaksi kualitas air baku dengan bahan kimia pengolahan.
Dari diameter awal sekitar 10 sentimeter, pipa dapat menyempit hingga setengahnya.
“Saat pembersihan, endapan dikeluarkan dari dalam pipa. Air buangan itu memang hitam. Kalau ada pelanggan buka keran saat proses pembersihan, air hitam bisa keluar dan kadang langsung diviralkan,” katanya.
Ia menegaskan kondisi tersebut tidak mewakili seluruh pelanggan.
Dari sekitar 190 ribu pelanggan Perumdam, keluhan biasanya hanya terjadi pada titik tertentu yang sedang dilakukan perawatan jaringan.
“Kita minta semua pihak melihat secara adil. Satu kejadian tidak bisa mewakili seluruh kota,” ujarnya.
Nor Wahid juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas berbagai keterbatasan layanan yang masih terjadi.
Ia menargetkan cakupan layanan air bersih dapat menjangkau seluruh wilayah Kota Samarinda pada 2029.
“Kami mohon maaf kepada masyarakat. Mudah-mudahan target pelayanan menyeluruh pada 2029 bisa tercapai,” ujarnya.
Direktur Pelayanan Perumdam Tirta Kencana, Widyastuti Supartinah, menegaskan pihaknya terbuka terhadap keluhan masyarakat, termasuk jika terjadi lonjakan tagihan setelah penyesuaian tarif.
“Kami siap menerima konfirmasi atau data dari pelanggan. Kalau ada pemakaian sama tapi tagihan melonjak, silakan lapor. Kita jelaskan secara rasional berdasarkan data,” katanya.
Ia menambahkan Perumdam terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jaringan distribusi, serta mengoptimalkan layanan pelanggan.
Sosialisasi juga akan diperluas hingga tingkat kelurahan dan RT, terutama bagi pelanggan yang tidak aktif di media sosial.
Sementara itu, Direktur Teknik Kaharuddin menjelaskan Perumdam telah membangun sistem pelaporan berbasis lingkungan melalui program Pehabaran Banyu yang melibatkan RT dan lembaga masyarakat setempat.
“Warga bisa lapor lewat RT, lalu diteruskan ke LPM dan Perumdam. Petugas kami bekerja 24 jam. Sertakan lokasi dan alamat jelas, insyaallah cepat kami tangani,” katanya.
Ia memastikan tim produksi dan distribusi bekerja dalam sistem shift selama 24 jam untuk merespons gangguan layanan di lapangan.
Selain itu, pelanggan diminta segera melapor melalui Contact Center Perumdam Tirta Kencana di nomor (0541) 2088100 atau WhatsApp 0811-553-536.

