PURWAKARTA: Parang Gombong menjadi salah satu titik favorit warga Purwakarta dan sekitarnya untuk melepas penat.
Kawasan wisata alam ini belakangan ramai didatangi pengunjung, terutama setelah keindahan jalur tanggulnya banyak beredar di media sosial.

Parang Gombong yang berada di wilayah Kecamatan Sukasari, Desa Kutamanah dikenal sebagai ruang terbuka alami untuk bersantai, berfoto, hingga berkemah.
Dengan harga tiket masuk (HTM) sekitar Rp10.000, pengunjung sudah dapat menikmati area lapang untuk mendirikan tenda dan beraktivitas di alam terbuka.
Area Parang Gombong yang relatif datar dan luas juga mendukung aktivitas motcamp maupun campervan.
Banyak pengunjung memilih memarkir kendaraan dekat area tenda karena dinilai lebih praktis dan aman, sehingga pengalaman berkemah terasa lebih santai.
Bagi pengunjung yang berkemah, Parang Gombong menawarkan pengalaman menikmati matahari terbit (sunrise) dengan latar kabut tipis di atas waduk dan perbukitan.
Pagi hari di kawasan ini kerap dimanfaatkan untuk bersantai sambil menikmati udara segar dan suasana tenang sebelum kawasan kembali ramai.
Sementara itu, senja di atas tanggul menjadi momen favorit lainnya.
Banyak pengunjung memilih naik ke jalur tanggul untuk menikmati matahari terbenam dengan pemandangan air bendungan yang memantulkan cahaya jingga.
Suasana ini kerap menjadi latar foto dan video yang ramai dibagikan di media sosial.
Dalam beberapa bulan terakhir, popularitasnya melonjak dan menarik wisatawan lintas daerah, mulai dari Purwakarta hingga Karawang.
Tak hanya camping dan bersantai, Parang Gombong juga dikenal sebagai surga kecil bagi penghobi memancing.
Di sepanjang tepi waduk, terdapat banyak spot yang kerap digunakan untuk memancing ikan nila, mujair, patin hingga udang galah.
Di sekitar area camping, sudah tersedia sejumlah warung-warung lokal yang melayani kebutuhan pengunjung.
Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari nasi liwet komplit, ikan bakar, ayam goreng, aneka gorengan, hingga kopi tubruk untuk menemani suasana dingin pagi atau malam hari.
Daya tarik Parang Gombong kian menguat setelah jalan tanggul menuju kawasan tersebut dihotmix pada Oktober 2025.
Perbaikan infrastruktur ini membuat akses menuju lokasi menjadi lebih nyaman dan aman, terutama bagi pengendara roda dua.
Kondisi jalan yang kini mulus dinilai memperkuat minat wisatawan untuk datang, sekaligus memudahkan mobilitas warga yang sehari-hari melintasi kawasan tersebut.
Hingga Minggu, 4 Januari 2026, berdasarkan pantauan narasi.co, kawasan Wisata Parang Gombong masih dipadati pengunjung dari pagi.
Dari pusat Purwakarta, Parang Gombong dapat ditempuh sekitar 30–40 menit.
Pengunjung umumnya melintasi jalur menuju Kecamatan Sukasari, lalu memasuki kawasan Waduk Jatiluhur hingga mencapai jalan tanggul Parang Gombong.
Sementara dari Karawang, waktu tempuh berkisar 1 hingga 1,5 jam.
Rute Karawang–Purwakarta kemudian dilanjutkan ke arah Sukasari menjadi jalur yang paling sering digunakan wisatawan.
Sahira Putri, warga Kertamanah, Kecamatan Sukasari, Purwakarta, mengaku Parang Gombong sudah menjadi bagian dari aktivitas hariannya.
Mahasiswi tersebut hampir setiap hari melewati kawasan ini untuk berangkat dan pulang kuliah.
“Hampir tiap hari saya lewat Parang Gombong buat kuliah. Tempatnya memang enak, terbuka, dan pemandangannya bikin tenang,” ujar Sahira.
Menurutnya, Parang Gombong juga kerap menjadi pilihan untuk bersantai.
“Kalau lagi senggang, saya sering main ke sini sama teman-teman, kadang juga camping. Apalagi sekarang jalannya sudah dihotmix makin nyaman,” katanya.
Lonjakan kunjungan terlihat jelas pada 1 Januari 2026.
Ribuan kendaraan memadati akses menuju Parang Gombong sejak pagi, menyebabkan kemacetan di beberapa titik, khususnya di jalur masuk kawasan Sukasari dan sekitar tanggul.
Kemacetan tersebut dipicu oleh antusiasme wisatawan yang ingin menghabiskan hari pertama tahun baru dengan menikmati panorama Parang Gombong sekaligus berfoto di jalur tanggul yang viral.
Ramainya Parang Gombong membawa dampak positif bagi UMKM warga sekitar, namun juga memunculkan tantangan, mulai dari keterbatasan parkir, fasilitas umum, hingga pengaturan arus lalu lintas saat hari libur.
Warga berharap kawasan Parang Gombong dapat dikelola lebih tertib agar tetap nyaman dikunjungi tanpa menghilangkan karakter alaminya.

