SAMARINDA: Bendahara Partai Gerindra Kalimantan Timur Sabaruddin Panrecalle menanggapi pernyataan Ketua DPW PKB Kaltim Syafruddin yang menyebut partainya tidak akan lagi mengusung pasangan Rudy Mas’ud – Seno Aji pada pemilihan gubernur mendatang.
Menurut Sabaruddin, pernyataan tersebut merupakan hak prerogatif PKB sebagai partai politik.
Namun ia menilai sikap tersebut masih terlalu dini disampaikan mengingat dinamika politik dapat berubah seiring waktu.
“Statement daripada Pak Syafruddin sebagai Ketua PKB, saya pikir itu hak prerogatif beliau untuk menyampaikan demikian. Kalau PKB mengatakan tidak lagi mendukung pasangan Rudy–Seno, silakan saja,” kata Sabaruddin saat dimintai tanggapan, Sabtu, 7 Maret 2026.
Meski demikian, Sabaruddin yang juga menjabat Ketua Komisi II DPRD Kaltim menegaskan bahwa peta politik menjelang pemilihan kepala daerah masih sangat dinamis dan belum dapat dipastikan sejak sekarang.
Ia menilai kemungkinan konfigurasi pasangan calon masih sangat terbuka. Bahkan menurutnya, komposisi kandidat bisa saja berubah dari yang ada saat ini.
“Bagaimana kalau nanti berjalan dengan waktu, misalnya bukan lagi Rudy–Seno, bisa saja nanti Rudy dengan pasangan lain atau Seno dengan pasangan lain. Politik itu sangat dinamis,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masa pemerintahan pasangan yang saat ini memimpin masih panjang, sehingga terlalu prematur jika sudah membicarakan arah dukungan politik untuk pemilihan berikutnya.
“Ini kan baru satu tahun berjalan. Kita tidak tahu perjalanan politik ke depan, masih ada sekitar empat tahun lagi. Jadi menurut saya terlalu prematur kalau sudah menyampaikan sikap seperti itu sekarang,” katanya.
Sabaruddin menambahkan, dalam dinamika koalisi partai politik hal seperti itu merupakan sesuatu yang wajar. Perbedaan pandangan di dalam koalisi, menurutnya, tidak selalu berarti adanya konflik besar.
“Dalam satu usungan partai politik itu wajar kalau ada yang puas dan ada yang tidak puas. Itu bagian dari dinamika politik,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui, pada Pemilu 2024 lalu pasangan Rudy Mas’ud dan Seno Aji diusung oleh koalisi besar yang terdiri dari sejumlah partai politik. Koalisi tersebut melibatkan Golkar, Gerindra, PKB, PAN, PKS, NasDem, PPP, PBB, PSI, dan Hanura.
Dengan dukungan mayoritas partai tersebut, pasangan Rudy–Seno berhasil memenangkan kontestasi Pilgub Kalimantan Timur.
Namun dinamika politik di internal koalisi mulai menjadi sorotan setelah muncul pernyataan dari PKB yang menyebut tidak akan kembali mengusung pasangan tersebut pada pemilihan gubernur mendatang.
Menanggapi hal itu, Sabaruddin menegaskan bahwa fokus utama saat ini seharusnya tetap pada pengawasan kebijakan pemerintah daerah, bukan pada spekulasi politik yang masih terlalu jauh.
“Tugas kita mengontrol kebijakan itu. Wajar dalam satu usungan partai politik ada yang tidak puas, ada yang mungkin puas itu hal yang wajar,” demikian Sabaruddin.

