BONTANG: Rencana proyek optimalisasi Waduk Kanaan di Kota Bontang terpaksa ditunda. Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang memutuskan tidak melanjutkan program tersebut pada tahun ini karena keterbatasan kemampuan anggaran daerah.
Wali Kota Neni Moerniaeni mengatakan kondisi fiskal daerah saat ini tidak memungkinkan untuk memulai proyek besar tersebut, sehingga pemerintah harus menunda sejumlah program pembangunan yang dinilai masih dapat ditangguhkan.
“Ini sangat berat. Anggaran juga terbatas, program yang bisa ditunda tidak kita mulai tahun ini,” ujar Neni saat ditemui di Pendopo Rujab Wali Kota Bontang, Jumat, 10 April 2026.
Padahal sebelumnya, proyek optimalisasi Waduk Kanaan dirancang menggunakan skema multiyears contract (MYC) atau kontrak tahun jamak selama lima tahun, mulai 2026 hingga 2031, dengan target penyelesaian fisik utama pada 2028.
Program tersebut tidak hanya dirancang untuk mempercantik kawasan waduk, tetapi juga memiliki fungsi strategis sebagai pengendali banjir sekaligus sumber cadangan air baku bagi masyarakat di Kota Bontang.
Selain itu, kawasan Waduk Kanaan juga diproyeksikan berkembang menjadi salah satu destinasi wisata baru di kota tersebut.
Meski proyek revitalisasi belum dapat dijalankan, Pemkot Bontang tetap berharap upaya peningkatan kapasitas tampung waduk dapat dilakukan melalui dukungan pemerintah provinsi, terutama dalam bentuk kegiatan pengerukan atau pendalaman.
“Kami berharap provinsi bisa membantu untuk kegiatan pendalaman atau pengerukan Waduk Kanaan,” kata Neni.
Ia menambahkan, selama ini kegiatan pengerukan di kawasan tersebut juga beberapa kali mendapat dukungan dari pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai (BWS). Karena itu, Pemkot berharap kolaborasi serupa masih dapat dilanjutkan.
“Kami berharap Pemprov melalui Balai Wilayah Sungai tetap melakukan pengerukan. Selama ini kami juga mendapat bantuan dari mereka,” tambahnya.
Sebelumnya, Pemkot Bontang telah merancang pembiayaan pembangunan infrastruktur waduk secara bertahap selama tiga tahun.
Pada 2026 disiapkan anggaran sekitar Rp48,8 miliar, kemudian Rp129 miliar pada 2027, dan Rp88 miliar pada 2028.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga merencanakan anggaran pengawasan teknis sekitar Rp960 juta pada 2026, Rp2,5 miliar pada 2027, serta Rp1,7 miliar pada 2028, dengan total sekitar Rp5 miliar.
Sementara itu, biaya pengelolaan pengembangan kawasan disiapkan lebih dari Rp1 miliar secara bertahap.
Apabila optimalisasi waduk dapat direalisasikan, kapasitas tampung air diperkirakan meningkat cukup signifikan.
Saat ini daya tampung Waduk Kanaan sekitar 200.010 meter kubik, dan melalui normalisasi serta pengembangan infrastruktur dapat meningkat hingga 413.014 meter kubik, atau bertambah sekitar 213.004 meter kubik.
Karena itu, meskipun proyek revitalisasi belum dapat dilanjutkan dalam waktu dekat, Pemkot Bontang menilai kegiatan pengerukan tetap penting sebagai langkah awal menjaga fungsi waduk sekaligus mengantisipasi potensi banjir di kawasan sekitar.
Pemkot pun membuka peluang kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur agar pengembangan Waduk Kanaan tetap dapat berjalan secara bertahap dan berkelanjutan di masa mendatang.

