SAMARINDA: Suasana menjelang Maghrib di Islamic Center Kalimantan Timur, Sabtu, 21 Februari 2026, terasa khusyuk. Ratusan jemaah duduk menanti waktu berbuka dalam Kajian Pengantar Iftar 3 Ramadan 1447 Hijriah, ketika Dosen UINSI Samarinda, Muhammad Yamin, mengajak mereka merenungi makna dua kebahagiaan yang dijanjikan Allah SWT bagi orang-orang yang berpuasa.
Dalam tausiyahnya, Yamin mengutip hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:
“Bagi orang yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah.”
Menurutnya, dua kebahagiaan itu menjadi fondasi spiritual ibadah puasa.
Kebahagiaan pertama bersifat duniawi, yakni saat berbuka puasa. Namun ia menekankan, kebahagiaan tersebut bukan semata karena makanan dan minuman yang tersaji.
“Rasa bahagia itu lahir dari syukur karena Allah memberi kekuatan menyelesaikan ibadah satu hari penuh. Itu kemenangan kecil melawan hawa nafsu,” ujarnya di hadapan jemaah, Sabtu, 21 Februari 2026.
Ia menyebut momen Maghrib di bulan Ramadan memiliki makna yang berbeda. Umat Islam menunggu waktu berbuka dengan harap dan doa, sebuah suasana batin yang sulit ditemui di bulan-bulan lainnya.
“Kita menunggu Maghrib dengan penuh kesadaran bahwa hari itu telah kita isi dengan ketaatan,” katanya.
Selain sebagai wujud syukur, berbuka juga menjadi simbol nikmat rezeki yang dihalalkan setelah seharian menahan diri.
Adapun kebahagiaan kedua, lanjut Yamin, adalah kebahagiaan ukhrawi ketika seorang hamba berjumpa dengan Allah SWT. Di situlah puasa menemukan puncak maknanya.
“Itulah kebahagiaan hakiki. Saat seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan diridhai, menerima balasan atas puasanya,” jelasnya.
Ia juga menyinggung pintu Ar-Rayyan, pintu surga yang dikhususkan bagi orang-orang yang berpuasa. Pintu tersebut, menurutnya, menjadi simbol kemuliaan dan penghargaan Allah terhadap kesabaran serta keikhlasan hamba-Nya.
“Masuk melalui pintu Ar-Rayyan adalah bentuk kebahagiaan yang dijanjikan bagi orang-orang yang menjaga puasanya dengan iman dan pengharapan pahala,” ucapnya.
Yamin turut mengingatkan bahwa Ramadan menghadirkan kemudahan dalam beribadah. Dorongan spiritual terasa lebih kuat, amal saleh lebih mudah dilakukan, dan hubungan antara hamba dan Allah menjadi lebih intens.
Menutup kajiannya, ia membacakan firman Allah SWT:
“Irji‘ī ilā rabbiki rādhiyatan mardhiyyah. Fadkhulī fī ‘ibādī, wadkhulī jannatī.”
“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Ayat tersebut, menurutnya, menjadi gambaran akhir perjalanan spiritual Ramadan sebuah perjumpaan dalam keadaan ridha dan diridhai.
“Setiap Maghrib adalah kebahagiaan kecil. Tapi tujuan akhirnya adalah kebahagiaan saat bertemu Allah,” pungkasnya.

