SAMARINDA: Ketua Harian BPW Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur (Kaltim), Ridwan Tassa menyatakan kesiapannya untuk maju dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) KKSS Kaltim yang akan digelar dalam waktu dekat.
Ia mengusung agenda reaktualisasi organisasi dengan menekankan perubahan tata kelola, penguatan peran pemuda, serta modernisasi sistem organisasi.
Ridwan menilai, KKSS perlu segera melakukan pembenahan menyeluruh agar mampu menjawab tantangan zaman.
“KKSS ini menurut saya perlu segera melakukan perubahan, terutama dari sisi tata kelola pengelolaannya. Itu membutuhkan waktu, pikiran, dan tenaga,” ujarnya usai menjadi narasumber Diskusi Umum Forum Pemuda Sulawesi Selatan di Samarinda, Sabtu malam 11 April 2026.
Ia menyatakan kesiapannya untuk mengabdikan diri secara penuh jika dipercaya memimpin, terlebih dirinya telah memasuki masa pensiun.
“Saya siap meluangkan waktu, menyumbangkan pikiran dan tenaga karena saya sudah pensiun,” katanya.
Ridwan bukan sosok baru di tubuh KKSS.
Ia mengaku telah aktif selama lebih dari 30 tahun, mulai dari pengurus sejak era kepemimpinan Andalas hingga berbagai posisi strategis.
“Jadi saya sangat paham apa yang terjadi di KKSS,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan tidak hanya menyasar sistem organisasi, tetapi juga cara berpikir seluruh anggota agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan teknologi.
“Kita harus berani menerima perubahan, termasuk memanfaatkan teknologi dan potensi pemuda kita,” tegasnya.
Ia menilai regenerasi menjadi kunci penting agar KKSS tetap relevan.
Organisasi, kata dia, tidak lagi bisa hanya bertumpu pada figur-figur senior semata.
“Sekarang bukan lagi hanya orang-orang tua dengan karisma tinggi, tapi kita butuh anak-anak muda yang bisa bekerja dan berbuat,” ujarnya.
Ridwan menekankan bahwa KKSS harus solid secara internal dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Selain reformasi organisasi, Ridwan juga menyoroti pentingnya pelestarian budaya Bugis-Makassar di tengah generasi muda perantau yang kini banyak lahir dan besar di Kaltim.
“Nilai-nilai budaya kita sudah mulai tergerus dan mengalami degradasi. Ini harus kita pikirkan bersama,” ujarnya.
Ia menilai generasi muda KKSS saat ini tidak sepenuhnya menerima budaya Sulawesi Selatan secara langsung, sehingga diperlukan program pembinaan yang terstruktur agar nilai-nilai budaya tetap lestari.
Ridwan juga menegaskan identitas warga KKSS sebagai bagian dari masyarakat Kaltim yang tetap memiliki hubungan emosional dengan daerah asalnya.
Dalam visinya, Ridwan menempatkan pembangunan sekretariat sebagai kebutuhan mendesak untuk menjadikan KKSS sebagai organisasi modern.
“Sekretariat adalah kebutuhan pokok. Di sana nanti akan kita kelola dengan teknologi, termasuk untuk database anggota dan sistem registrasi,” jelasnya.
Ia menilai, dengan sistem yang baik, KKSS dapat memetakan potensi sumber daya manusia anggotanya, termasuk membantu mereka yang belum memiliki pekerjaan.
Selain itu, Ridwan juga berencana membentuk yayasan sebagai instrumen pendukung kegiatan organisasi dan pemberdayaan ekonomi warga.
“Yayasan ini penting untuk membiayai kegiatan dan menghidupi KKSS ke depan. Insyaallah jika diberi amanah, kita akan langsung membentuknya,” katanya.
Ia menyebut yayasan tersebut dapat bergerak di berbagai sektor strategis seperti transportasi dan UMKM, menyesuaikan dengan bidang usaha yang banyak digeluti warga KKSS.
“Warga kita banyak di perdagangan, transportasi, dan pemerintahan. Ini peluang besar untuk kita kelola melalui yayasan agar bisa membantu sesama,” jelasnya.
Dengan gagasan tersebut, Ridwan berharap KKSS Kaltim dapat bertransformasi menjadi organisasi yang lebih modern, inklusif, dan berdaya guna bagi anggotanya maupun masyarakat luas.

