SAMARINDA: Di antara deretan stan UMKM Syariah yang ramai di kawasan Masjid Islamic Center Samarinda, sebuah meja belajar sederhana beralaskan tikar menarik perhatian.
Tanpa spanduk besar, tanpa etalase mencolok, hanya deretan kotak makanan plastik yang tersusun rapi.
Di balik meja itu, duduk seorang bocah berkaus biru muda.
Senyumnya tenang, matanya awas mengamati setiap orang yang melintas.
Namanya Rifki, 13 tahun, siswa kelas 1 SMP Negeri 40 Samarinda.
Saat sebagian besar anak seusianya menghabiskan akhir pekan untuk bermain, Rifki justru memilih berjualan di Bazar UMKM Syariah yang menjadi bagian dari pekan belanja di Islamic Center, Minggu, 14 Desember 2025.
“Di sini ada lumpia, lemper, martabak mini, pisang keju, kue sus, brownies, bingka, putu belanda, bolu kukus, sama kue ketan,” ucap Rifki sambil menunjuk satu per satu dagangannya.
Harga jualannya pun ramah kantong, berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per bungkus.
Rifki bukan pedagang dadakan. Pengalaman berjualannya sudah dimulai sejak lama.
Ia mengaku mulai ikut berjualan di kawasan Islamic Center sejak kelas 5 SD.
Bahkan, jauh sebelum itu, Rifki sudah mencoba berjualan sejak kelas 1 SD.
“Dulu jualan pisang keju sama tahu isi, keliling,” katanya.
Bukan ke sekolah karena memang tidak diperbolehkan. Akhirnya, Rifki memilih berkeliling di lingkungan sekitar.
Ia pun mengaku sering bertemu teman-teman sebayanya saat berjualan.
“Sering ketemu teman. Tapi nggak malu,” ujarnya mantap.
Sebagian makanan yang dijual Rifki dibuat sendiri, seperti bolu kukus.
Selebihnya merupakan titipan orang lain. Namun, seluruh hasil penjualan ia serahkan kepada ibunya.
“Saya kasih ibu semua,” kata Rifki singkat.
Ketika ditanya alasan memilih berjualan di usia muda, Rifki menjawab tanpa ragu.
“Saya ingin bantu ekonomi orang tua, sama ingin nambah pengalaman buat nanti kalau sudah besar,” katanya.
Cita-citanya pun sederhana, namun penuh makna. Rifki ingin menjadi pengusaha.
“Pengusaha yang kaya raya,” ujarnya polos.
Rifki tinggal di kawasan Jalan Revolusi, Samarinda. Untuk urusan uang jajan, ia mengaku hanya mengambil secukupnya.
“Kalau dulu SD jajan Rp10 ribu, sekarang SMP Rp15 sampai Rp25 ribu,” katanya.
Sebagian ia gunakan untuk jajan, sebagian lagi ditabung.
Tabungan itu rencananya akan digunakan untuk membeli ponsel baru.
Perjalanan Rifki tentu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami perundungan saat masih duduk di kelas 4 SD.
“Pernah dibilang caper, cari perhatian,” kenangnya.
Namun waktu mengubah segalanya. Kini, teman-temannya di SMP justru memberi dukungan. Ada yang datang menemani, ada pula yang sengaja membeli dagangannya.
“Sekarang teman-teman dukung,” katanya sambil tersenyum.
Ia juga punya impian sederhana namun menyentuh. Suatu hari, Rifki nanti ingin mengajak orang tuanya ke mal dan membeli barang tanpa harus melihat harga.
Di tengah kesibukannya melayani pembeli, Rifki menyampaikan pesan yang terdengar jauh lebih dewasa dari usianya.
“Jangan habiskan waktu cuma buat main. Sisihkan waktu buat hal yang bermanfaat dari sekarang,” pesan Rifki.
Di bazar yang riuh oleh transaksi dan tawar-menawar, kisah Rifki berdiri sebagai pengingat sunyi: bahwa kerja keras, tanggung jawab, dan mimpi besar bisa tumbuh dari meja kecil beralas tikar bahkan sejak usia belia.

