JAKARTA: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda saat ini mengoperasikan 50 unit mesin hemodialisa untuk melayani pasien gagal ginjal akut maupun kronis.
Humas RSUD AWS, dr. Arysia Andhina, yang akrab disapa dr. Sisi, mengatakan penambahan tempat tidur (bed) hemodialisa belum dapat dilakukan dalam waktu dekat karena keterbatasan ruang.
“Belum bisa ditambah, ruangannya sudah penuh. Kalau mau nambah bed nanti rencananya di ruang Pandurata,” ujar dr. Sisi saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Jumat, 6 Februari 2026.
Ia menjelaskan, penambahan fasilitas hemodialisa baru memungkinkan dilakukan setelah Gedung Pandurata selesai dibangun. Namun, realisasi pembangunan gedung tersebut masih membutuhkan waktu.
“Kalau di gedung baru Pandurata baru bisa ditambah, tapi masih agak lama,” katanya.
Gedung Pandurata diperkirakan mampu menampung ratusan pasien dengan kapasitas sekitar 500 tempat tidur. Gedung ini direncanakan mulai beroperasi pada 2026.
Sebelumnya, Direktur RSUD AWS, David Masjhoer, menjelaskan bahwa layanan hemodialisa di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tersebut dirancang beroperasi setiap hari dengan sistem dua sesi.
“Sesi pagi dimulai pukul 08.00 hingga 13.00 dan sesi sore dari pukul 13.00 hingga 18.00,” jelasnya.
Setiap tindakan hemodialisa membutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan jam per pasien. Dengan pola dua sesi per hari, seluruh mesin dioptimalkan untuk melayani kebutuhan pasien secara maksimal.
Untuk kondisi tertentu, seperti pasien gagal ginjal akut akibat dehidrasi berat atau pendarahan, layanan cuci darah dapat dilakukan selama 24 jam.
RSUD AWS juga memastikan seluruh layanan hemodialisa saat ini ditanggung oleh BPJS Kesehatan, sehingga pasien tidak dikenakan biaya tambahan selama kepesertaan BPJS aktif.
Dengan tingginya kebutuhan layanan cuci darah di Kalimantan Timur, manajemen RSUD AWS menyatakan tetap berupaya mengoptimalkan pelayanan yang ada sembari menunggu penambahan fasilitas melalui pembangunan gedung baru.

