SAMARINDA: Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus mematangkan strategi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui penguatan infrastruktur publik dan sektor jasa.
Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari transformasi kota dalam menangkap peluang besar kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN).
Asisten II Sekretariat Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Marnabas Patiroy, menekankan bahwa kunci pertumbuhan ekonomi ke depan adalah kenyamanan kota yang mampu menarik orang untuk datang dan berbelanja di Samarinda.
Salah satu proyek yang disiapkan adalah kawasan Teras Samarinda.
“Bagaimana caranya supaya orang datang ke Samarinda dengan berbagai fasilitas yang kita siapkan, seperti Teras Samarinda untuk menambah PAD kita,” ujarnya, Rabu, 1 April 2026.
Selain Teras Samarinda, Pemkot juga fokus pada pembenahan pusat perbelanjaan tradisional.
Tahun ini, pasar buah di Pasar Merdeka Samarinda diharapkan sudah bisa beroperasi penuh agar distribusi komoditas lebih teratur.
Begitu pula dengan Pasar Segiri yang disiapkan sebagai pusat komoditas sayuran dan kebutuhan pokok lainnya.
Di sisi lain, Marnabas mengingatkan kehadiran IKN dipandang sebagai pisau bermata dua yang harus dikelola dengan manajemen yang matang.
Menurutnya, jika tidak disikapi dengan kesiapan infrastruktur dan lapangan kerja, IKN dikhawatirkan justru akan menambah angka pengangguran akibat arus migrasi penduduk.
“Hati-hati, IKN ini peluang dan tantangan. Kalau kita tidak bisa me-manage itu, maka menjadi tantangan buat kita, pengangguran akan meningkat karena banyak orang datang ke sini. Makanya tantangan ini harus kita jadikan peluang,” tegasnya.
Karena itu, salah satu target ambisius dalam mendukung kualitas hidup warga dan pendatang adalah pemenuhan kebutuhan dasar.
Hal tersebut termasuk target Wali Kota Samarinda yang mencanangkan bahwa pada tahun 2029, seluruh masyarakat Samarinda harus sudah menikmati akses air bersih secara merata.
Terkait ketahanan pangan, Pemkot Samarinda juga mulai mengarahkan sektor pertanian agar lebih produktif guna menekan ketergantungan pasokan dari luar daerah yang mencapai 70-80 persen.
Marnabas menjelaskan bahwa manajemen logistik dan pemanfaatan lahan lokal kini menjadi fokus utama dalam menghadapi ancaman inflasi.
“Kita ubah pertanian kita menjadi produktif. Kita manfaatkan pendatang untuk menjadi investor, pedagang, atau petani di sini. Ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) itu harus kita ubah menjadi peluang,” lanjutnya.
Melalui sinergi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan pemerintah pusat, Samarinda optimistis pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di angka 6,3 persen tetap terjaga stabil meski di tengah tantangan ekonomi global.
“Samarinda ini luar biasa. Kita harus kerja cerdas untuk mengelola potensi yang ada agar setiap tantangan yang datang bisa memberikan keuntungan bagi daerah,” tutupnya.

